
Sabtu, 21 November 2009 | 02:52 WIB
Oleh BUDIARTO SHAMBAZY
Selesai sudah penyisihan Piala Dunia 2010 setelah 31 negara peserta (plus tuan rumah Afrika Selatan) merebut tiket lewat laga dramatis, Rabu (18/11). Di babak play off
Henry mengaku handball, wasit tetap pada putusannya. Rakyat Perancis gembira, publik Irlandia marah. Drama di lapangan pindah ke panggung politik. Presiden Perancis Nicolas Sarkozy di KTT Uni Eropa di Brussels, Belgia, Kamis, minta maaf kepada Perdana Menteri Irlandia Brian Cowen. Namun, Sarkozy menolak diadakannya pertandingan ulang seperti usulan Cowen.
Cowen mendesak FIFA mengadakan partai ulang seperti Uzbekistan versus Bahrain tahun 2005. FIFA menjawab partai ulang bisa terselenggara kalau federasi sepak bola Perancis dan Irlandia setuju. Manajer Irlandia asal Italia, Giovanni Trapattoni, lebih realistis saat mengatakan, ”Saya tahu itu mustahil. Jika wasit sudah memutuskan, semuanya berakhir.”
Prinsip fair play dijunjung tinggi FIFA, termasuk keputusan wasit—yang juga manusia biasa—yang mutlak. Kemanusiawian itu menjadikan sepak bola drama penuh gairah yang, ibarat lambang drama, berwajah tangis dan tawa. Itu juga yang membuat FIFA menolak penggunaan alat-alat elektronik bagi wasit untuk mengambil keputusan—seperti tayang ulang rekaman televisi untuk memastikan si kulit bundar melewati garis gawang atau tidak.
Seperti drama, dalam sepak bola terkandung juga prinsip to err is human. Hati nurani Anda terkoyak menyaksikan gol ”Hand of God” Diego Maradona atau ”Hand of Frog” Henry. Namun, sebagian dari Anda terhibur oleh ulah Maradona maupun Henry yang secara moral belum tentu salah. Seribu tahun lagi pun debat tentang gol Maradona dan Henry takkan usai.
Sepak bola adalah demokrasi. Ia demokratis karena setiap anak (kaya-miskin, gemuk-kurus, tinggi-pendek) mampu memainkannya di mana saja dengan benda bulat terbuat dari kulit, plastik, kain, bahkan buntalan sampah. Ketegangan Perancis versus Irlandia menegaskan bahwa sepak bola, seperti halnya politik, urusan ”siapa merebut apa, kapan, dan bagaimana”.
Honduras pernah perang melawan El Salvador gara-gara Piala Dunia. Uruguay dan Argentina nyaris angkat senjata jelang final Piala Dunia. Piala Dunia 2010 pasti diwarnai fanatisme pendukung yang bisa meluber menjadi keberandalan dalam skala terbatas. Apalagi ada embel-embel ”perang antarsuku purbakala” ala Afrika yang, suka atau tidak, melibatkan hal-hal yang gaib.
Penggemar global senang dua langganan Piala Dunia dari Afrika, yakni ”Singa Perkasa” Kamerun dan ”Elang Super” Nigeria, hadir pula. Tim-tim Afrika lain yang ikut adalah tuan rumah ”Bafana Bafana” (Afsel), ”Bintang Hitam” (Ghana), ”Sang Gajah” (Pantai Gading), dan ”Serigala Gurun” (Aljazair). Jangan kaget andai di antara enam harapan Benua Hitam itu bisa sampai final.
Salah satu penyebabnya adalah super power Eropa, entah mengapa, selalu gagal jadi juara kalau Piala Dunia terselenggara di luar benua mereka. Mereka melangkah cuma sampai final: Cekoslowakia di Cile 1962, Jerman Barat di Meksiko 1986, Italia di Amerika Serikat 1994, dan Jerman di Korea-Jepang 2002. Bisakah mereka patahkan mitos itu di Afsel?
Tentu saja mungkin jika menyaksikan kualitas/prestasi dua juara, Italia juara Piala Dunia 2006 dan Spanyol juara Piala Eropa 2008. Apalagi Spanyol dan Italia menjalin hubungan kultural—termasuk sepak bola—yang panjang dan akrab dengan Benua Afrika karena posisi geografis kedua negara itu di selatan Eropa. Setidaknya mereka paham mindset orang Afrika.
Sebaliknya, Brasil memegang predikat langganan juara di mancabenua. Mereka bukan saja merebut mahkota di Benua Amerika (Cile, Meksiko, dan AS), tetapi juga di Eropa (Swedia 1958) dan Asia (Korea-Jepang). Kaka dan rekan-rekannya juga sudah menjalani pengalaman penting menjuarai Piala Konfederasi tahun ini di Afsel.
Argentina punya Lionel Messi. Meski ngos-ngosan di penyisihan karena Maradona pelatih ”salah asuh”, Argentina tak boleh diremehkan. Gaya permainan Afrika dan Amerika mirip: mengandalkan operan-operan pendek dan cepat. Jangan terkejut jika kompetisi Latin (Brasil/Argentina/Italia/Spanyol) versus Afrika (Afsel/Kamerun/Nigeria) mendominasi perempat final sampai final.
Di babak play off Zona Eropa, Portugal lolos pula. Slovenia secara mengejutkan menyingkirkan Rusia, Yunani menyingkirkan Ukraina. Berakhir sudah petualangan Guus Hiddink, pelatih Belanda pengasuh Rusia yang mengantar Korea Selatan ke semifinal 2002 dan Australia ke perempat final 2006. Pertanyaannya, apakah Hiddink masih berminat melatih Indonesia?
Nama Indonesia makin tenggelam dalam persaingan di Zona Asia. Selain tim langganan Korsel, Jepang, dan Australia, dari Zona Asia ada wajah baru: Korea Utara yang di Piala Dunia 1966 secara mengejutkan mengalahkan Italia. Namun, Korut maupun wakil Zona Oceania, Selandia Baru, takkan mampu berbuat banyak.
Australia bahkan telah menetapkan rencana menyewa konsultan top Jerman, Andreas Abold, menyiapkan Negara Kanguru itu sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022. Abold, bos perusahaan manajemen di Muenchen, adalah tokoh yang mengegolkan Jerman menjadi tuan rumah tahun 2006 dan Afsel tahun depan.
Sungguh beda dengan PSSI yang menggelorakan rencana menjadi tuan rumah Piala Dunia melalui pemasangan spanduk saja. Saya salut kepada mereka yang setiap malam ”mimpi berwarna” karena berkhayal kita siap menjadi tuan rumah Piala Dunia. Mimpi saya setiap malam hitam-putih karena kita terus kehilangan peluang merebut ”piala” kemenangan yang sesungguhnya.
Seperti PSSI, kita rakyat sudah terbiasa kalah. Entah sudah berapa lama rakyat kita menyaksikan kompetisi antarlembaga yang berlangsung dalam babak normal, perpanjangan waktu, adu penalti, sampai pertandingan ulang yang berlangsung keesokan hari, hari lusa, pada akhir pekan, dan pada awal minggu depan lagi. Penonton heran dan bergumam, ”Kok enggak kelar-kelar ya?”