
Sabtu, 21 November 2009 | 02:53 WIB
Mekkah, Kompas -
Demikian laporan wartawan Kompas Subhan SD dari Mekkah, Jumat petang. Semua ruang di Masjidil Haram dipadati jemaah haji yang melaksanakan ibadah umrah dan shalat lima waktu. Bahkan, saat shalat Jumat, polisi (askar) dengan tegas menghalau jemaah yang memasuki areal masjid.
Jemaah diminta tidak memaksakan diri karena semua ruangan terisi penuh. Bahkan, jemaah menjejali pelataran dan lantai paling atas masjid walaupun berpeluh karena kepanasan di bawah terik matahari. ”Dalam dua hari ini semakin padat sehingga sulit mendekat ke Kabah,” kata H Nalam, anggota jemaah kelompok terbang 5 embarkasi Medan yang telah tinggal di Mekkah sejak 22 hari lalu.
Padatnya jumlah jemaah di Mekkah itu menimbulkan kemacetan lalu lintas. Hal itu, menurut Kepala Daerah Kerja Mekkah Subakin Abdul Muthalib, juga mengganggu sistem angkutan jemaah haji Indonesia.
Meskipun Mekkah dalam keadaan penuh sesak, menurut kantor berita Saudi Press Agency, Jumat, semua kegiatan beribadah di Masjidil Haram berlangsung aman dan lancar.
Pelayanan dan pengendalian keamanan juga dikendalikan oleh Gubernur Mekkah Khalid Alfaisal bin Abdulaziz yang juga Ketua Panitia Pusat Haji.
Menjelang wukuf, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Indonesia melakukan sejumlah persiapan. Panitia menyiapkan 478 tenda untuk jemaah haji Indonesia di Padang Arafah.
Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Departemen Agama Slamet Riyanto saat dihubungi, Jumat, mengatakan, pihaknya mulai melakukan persiapan menghadapi wukuf, Kamis pekan depan.
Dari Boyolali dilaporkan, PPIH Embarkasi Adisumarmo Surakarta, Jawa Tengah, menemukan indikasi pemalsuan data jemaah haji. PPIH mendapati 110 anggota jemaah haji kelompok terbang 86 dari Kota Solo memiliki alamat nyaris sama serta beberapa jemaah tak bisa berbahasa Jawa dan Indonesia.
Ketua PPIH Embarkasi Solo Masyhudi dalam siaran pers, Jumat petang, mengaku prihatin mengetahui indikasi pemalsuan data jemaah haji itu. (NTA/*/GAL/NAS)