Rabu, 10 Februari 2010
KILASAN KAWAT SEDUNIA

Sabtu, 21 November 2009 | 03:06 WIB

 Lucknow

Ikatan suami-suami takut istri ternyata ada di India. Sekelompok suami India, yang lelah karena gangguan dari istri mereka, meminta pemda setempat membuat pelindungan bagi kaum lelaki. Seorang lelaki yang masuk dalam kelompok itu mengatakan, sudah cukup menderita karena istri yang cerewet dan sering mengomel. Para suami takut istri itu mengenakan pakaian pengantin tradisional dan berarak-arak di kota Lucknow, India, pekan ini. Mereka menginginkan pembentukan Komisi Nasional Laki-laki. ”Kami menginginkan persamaan hak. Kami ingin ada seseorang yang sudi mendengarkan para lelaki,” ujar Subhash Dube, seorang dokter yang mengaku menjadi korban kekerasan rumah tangga yang dilakukan istrinya. Presiden Komite Kesejahteraan Suami India Indu Paney mengatakan, perlindungan hukum hanya untuk melindungi perempuan. ”Kami sudah berulang kali menginginkan perundangan itu diamandemen,” katanya. Sebagian besar masalah adalah seputar mas kawin. Perempuan dan anggota keluarganya mendaftarkan klaim palsu bahwa mereka telah mendapat perlakuan kekerasan dari suami atau keluarga suami hanya karena tidak mampu memberikan mas kawin yang cukup. Di India, mas kawin diberikan oleh keluarga pihak perempuan kepada lelaki. Terkadang memang pihak lelaki merasa mas kawin tidak cukup lalu menyiksa istri. Polisi sudah biasa menerima keluhan terkait mas kawin. Sangat jarang terdengar suami-suami India yang disiksa istrinya.

 Dakar

Setelah mengalami krisis pangan, Pemerintah Senegal berupaya sekuat tenaga untuk mempromosikan beras lokal untuk mengurangi ketergantungan pada pangan impor. Namun, warga enggan memakannya. ”Beras lokal harus direndam lama,” ujar Mame Couma Tandjigora, seorang warga. ”Saya lebih suka beras Thailand yang harum.” Beras lokal? ”Oh tidak, terima kasih,” begitu jawab banyak warga. Banyak alasan yang diajukan warga untuk menolak makan beras lokal, antara lain karena tidak pulen. Di sejumlah restoran di Dakar, ibu kota Senegal, memang sulit menemukan beras lokal. Beras impor malah banyak ditemukan. Bukan karena beras lokal laku keras, melainkan karena tidak ada orang yang mau membelinya. ”Saya hanya menjual beras Thailand, tidak ada yang mau membeli beras lokal,” ujar pedagang beras grosir, Ahmed Mbaye. Departemen Pertanian Senegal mencanangkan untuk tidak mengimpor beras mulai 2012. Tetapi, siapa yang akan makan beras lokal? (AP/AFP/joe)

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: