
Sabtu, 21 November 2009 | 03:10 WIB
RIER, JUMAT -
Perusahaan juga menjanjikan kemakmuran bagi penduduk. Belakangan, penduduk mengeluhkan janji-janji yang tidak kunjung terpenuhi. Mereka mengatakan, eksploitasi minyak hanya membawa kesengsaraan.
”Ketika kami dipaksa pindah ke sini, perusahaan minyak itu membuat sejuta janji. Mereka mengatakan akan membangun sekolah, rumah sakit, dan menyediakan air minum,” ujar pimpinan warga setempat, Wiliam Malual, di Rier, Jumat (20/12).
Seluruh penduduk kota kecil berjumlah 2.000 orang itu dipindahkan pada tahun 2006 dari kawasan yang kini menjadi kantor White Nile Petroleum Operating Companies (WNPOC), anak perusahaan Petronas (Malaysia).
”Sekarang orang-orang mulai sakit dan kami tidak mengetahui penyebabnya. Ternak-ternak sekarat karena ada kandungan kimia dalam air,” ujar Malual.
Hal itu didukung pejabat setempat. ”Kami mencurigai kualitas air di kawasan ini sudah sangat buruk,” ujar perwakilan dari Departemen Kesehatan di Negara Bagian Persatuan, Sudan selatan, Peter Majuoy.
Lembaga swadaya masyarakat dari Jerman, Sign of Hope, memperingatkan bahwa air sudah terkontaminasi garam dan logam berat.
Saat ini tidak ada lagi orang yang mengambil air dari sumur tua yang dinyatakan oleh Sign of Hope terkontaminasi sianida, timah, nikel, kadmium, dan arsenik. Bahkan perwakilan perusahaan setempat menyatakan air itu sudah tidak layak digunakan.
”Kami tidak pernah lagi menggunakan sumur itu,” ujar Martha Nyaluk, warga setempat.
Keluhan warga amat beragam. ”Semua orang menderita karena air tercemar. Kami tidak lagi menggunakannya untuk memasak, mencuci, atau mandi,” ujar Malual.
Rier seolah tidak bergairah lagi. Cerobong asap dengan garis merah dan putih yang merupakan fasilitas pemrosesan minyak Thar Jath mendominasi pemandangan di kawasan rawa-rawa Sudd, daerah yang dilindungi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Kisah Rier selama beberapa dekade belakangan ini juga bukanlah kisah yang menyenangkan. Namanya masih dikaitkan dengan kejadian-kejadian soal penyiksaan penduduk sipil ketika terjadi konflik di negara terbesar Afrika itu selama 22 tahun.
Jalan yang ada di kota kecil itu dikenal dengan nama ”jalan darah”. Ketika itu, ribuan pendukung Khartoum datang lalu mengamuk membabi buta.
Perang sipil menyebabkan 1,5 juta orang tewas. Perang itu secara resmi berakhir pada tahun 2005 dengan ditandatanganinya Persetujuan Perdamaian Komprehensif yang mengatur pembagian pendapatan atas minyak.
Searah dengan ”jalan darah” itu, terbujur pula pipa-pipa yang mengalirkan minyak mentah ke arah utara untuk disuling. Akan tetapi, penduduk di Rier menyatakan aliran minyak itu tidak mengalirkan kesejahteraan bagi mereka.
”Kami banyak belajar tentang bagi hasil kekayaan yang diperoleh dari minyak. Akan tetapi hingga kini kekayaan itu tidak kunjung tiba. Kehidupan bahkan lebih baik di masa lalu, ketimbang sekarang,” ujar Malual sudah tanpa asa.