
Sabtu, 21 November 2009 | 03:13 WIB
Sejumlah media massa Eropa mengkritik keras pemilihan presiden dan menlu UE itu, yang dinilai mengecewakan. Kedua pemimpin baru UE itu dinilai bukan tokoh menonjol dan dikenal luas, yang bisa membuat UE dihormati dan berkompetisi dunia dengan AS dan China.
Surat kabar Swedia, Dagens Nyheter, menulis, ”Herman, siapa?” dalam editorialnya. ”Itu artinya, UE akan kembali memiliki figur yang tidak diketahui rakyat Eropa,” kata surat kabar itu.
Surat kabar berpengaruh Spanyol, El Pais, menulis UE akan dipimpin ”dua orang yang membosankan dan figur yang tidak dikenal”.
Tulisan bernada serupa juga ditulis Frankfurter Rundschau Jerman, yang menyebut kedua tokoh baru UE itu tidak mempunyai visi dan bahkan pengalaman yang dibutuhkan di bidangnya.
Ketika pencalonan presiden UE dibuka, Inggris mengunggulkan Tony Blair untuk memimpin UE. Sikap keras Inggris itu sempat membuat proses pemilihan presiden dan menlu UE berjalan alot.
Akan tetapi, PM Inggris Gordon Brown sendirilah yang kemudian membatalkan pencalonan mantan PM Inggris itu karena menyadari Blair tidak akan mendapatkan dukungan yang diperlukan dari delapan pemimpin UE yang paling berpengaruh. Akibatnya, nama Blair tidak muncul saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) UE di Brussels.
”Ketika semakin jelas dan karena berbagai pertimbangan politik serta beragam pandangan di antara anggota-anggota UE (terhadap Blair), maka perdana menteri mengambil langkah kuat untuk mengajukan Catherine Ashton untuk posisi tingkat tinggi, posisi kunci kedua,” kata juru bicara kantor PM Inggris.
Van Rompuy, yang berasal dari kubu Demokrat Kristen, adalah PM Belgia yang baru menjabat kurang dari satu tahun. Sesuai dengan restrukturisasi UE, dia akan menjadi presiden Dewan Eropa secara permanen, yang akan memimpin KTT UE dan mewakili UE di luar negeri.
Sementara Catherine Ashton saat ini adalah Komisioner UE untuk perdagangan.
Keduanya dipilih setelah para pemimpin UE mencapai konsensus pada makan malam KTT UE, Kamis malam.
Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso mengatakan, Ashton pantas dipilih karena sangat penting Inggris berada di jantung proyek-proyek UE.
Dalam wawancara dengan radio BBC, Ashton menegaskan, dalam beberapa bulan dan tahun ke depan, dia akan menunjukkan bahwa dialah yang terbaik untuk pos menlu UE tersebut.
Van Rompuy mengungkapkan, dia tidak pernah diminta untuk menjadi presiden permanen pertama Dewan Eropa. ”Tetapi saya menerima ini dengan antusiasme dan penuh keyakinan,” ujarnya seperti dikutip Guardian.
Dia berjanji akan beroperasi dalam dua jalur pendekatan, yaitu menjadikan persatuan sebagai kekuatan UE dan memajukan keragaman sebagai kekayaannya.
Meskipun banyak yang meragukan Van Rompuy, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy memuji pemimpin Belgia itu sebagai ”seorang tokoh terkuat dalam perpolitikan Eropa”.
Telegraph