
Sabtu, 21 November 2009 | 03:23 WIB
Helena F Nababan
Pemutusan hubungan kerja dari tempatnya bekerja sempat membuat Gatot Kartiko (43) bingung mencari penghidupan. Sampai akhirnya terdorong memanfaatkan kekayaan motif tradisi Lampung untuk tetap mendapatkan penghasilan yang halal. Kini omzetnya mencapai jutaan rupiah.
Setelah enam tahun bekerja keras, dia kini dikenal sebagai produsen batik khusus motif Lampung dengan merek dagang Gabovira. Gabovira singkatan dari Gatot; Debora, nama istrinya; serta dua anaknya, Jelvi dan Raga.
Ditemui di rumah sekaligus satu dari delapan gerai penjualan batik miliknya di Jalan Basudewo B5 Beringin Raya Kemiling, Bandar Lampung, Sabtu (24/10), Gatot, pemilik sekaligus produsen menuturkan, ia memulai usaha batik setelah terkena pemutusan hubungan kerja tahun 2000.
Uang pesangon Rp 8 juta belum sempat terpikirkan untuk modal usaha. Baru setelah uang tersisa Rp 3 juta, Gatot mulai berpikir mencari penghasilan bagi keluarganya.
”Saya mengawali dengan jualan batik Pekalongan ke pasar dan di angkutan umum di Bandar Lampung,” ujar Gatot.
Gatot yang asal Surabaya, Jawa Timur, itu mendapatkan bahan-bahan dagangan dari saudara-saudaranya di Pekalongan. Sebagai pedagang batik keliling, ia sempat tidak diterima oleh pedagang di Pasar Bambu Kuning, Bandar Lampung, karena dianggap mengganggu usaha mereka.
Namun, Gatot terus berupaya. Satu trik dagang ia dapatkan dari buku. ”Buku pemasaran itu mengajarkan manajemen sistem gerilya,” ujar Gatot.
Gatot pun bergerilya tidak malu-malu menawarkan dagangannya. Dalam setiap menjual, calon pembeli diserbu lebih awal dengan kartu nama yang menunjukkan identitas dan jenis dagangan.
Jadilah Gatot penjaja batik Pekalongan. Di angkutan kota, ia memperlihatkan dagangannya supaya penumpang memerhatikan. ”Inti manajemen gerilya adalah promosi,” ujar Gatot.
Usaha Gatot akhirnya dilirik PT Perkebunan Nusantara VII. Melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan tahun 2003, Gatot mendapat bantuan dana Rp 20 juta.
Kebetulan Gatot sedang tertarik pada batik Lampung atau batik Sembagi yang biasa dipakai pegawai negeri sipil di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung setiap hari Sabtu.
Batik Lampung itu bermotif campur antara Jawa keraton dan motif Lampung. ”Lampung punya banyak motif tradisi sendiri seharusnya Lampung punya kekhususan,” ujar Gatot.
Mulailah ia berkreasi. Kreasi pertama ia pamerkan di Lampung Expo 2003. Ini awal perkembangan perjalanan usaha Gatot. Gubernur Lampung Sjachroedin ZP terkesan pada kreasi batik Gatot dan mendukungnya agar terus berkreasi.
Gatot mulai merancang motif-motif Lampung ke dalam kain. Motif jung atau kapal, pucuk rebung, siger, gajah, ataupun pucuk rebung kreasi baru menghiasi kain-kain ciptaannya.
Bisnis Gatot mulai merebak. Pada saat halalbihalal Lebaran 2005, gubernur dan pejabat Pemprov Lampung mengenakan baju batik motif Lampung kreasi Gatot. Ibu Truly Sjachroedin ZP, istri Sjachroedin ZP, meminta Gatot membuatkan kain seragam PKK Lampung.
Gatot mulai kebanjiran pemesan batik khas Lampung. Setiap pemkab/kota ataupun instansi menelepon Gatot untuk membuat batik khas Lampung.
Sebagai penghargaan, Gatot membuat desain khusus bagi setiap pemesan. Setiap pemkab/kota atau instansi akan punya kain batik khas. Pembeli di gerainya mendapatkan batik Lampung dengan motif lain.
Gatot sudah menciptakan 50 motif batik kreasi khas Lampung. Ia berupaya setiap dua bulan sekali muncul motif baru.
Gatot kian bangga ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengenakan salah satu batik kreasinya pada acara Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu. Batik berwarna dasar kuning dengan motif bunga dan siger yang besar yang dikenakan presiden terlihat pas.
Sejak tahun 2004, Gatot sudah menjual lebih dari 15.000 potong kain batik Lampung. Omzet naik dari Rp 3 jutaan per bulan tahun 2003 kini sudah lebih Rp 100 juta per bulan. Semua pinjamannya lunas.
Di Gabovira, pembeli juga tidak akan kecewa dengan harga. Kain batik Lampung dijual mulai Rp 55.000 untuk batik cap atau cetak dan 1 juta per potong untuk batik tulis. Kini ada tujuh gerai Gabovira tersebar di Metro, Bandar Jaya Lampung Tengah, Bandar Lampung, dan anjungan TMII Jakarta.
Tantangan terberat Gatot adalah bagaimana bisa memproduksi batik di Lampung dengan biaya produksi wajar supaya bisa menjual dengan harga terjangkau. Gatot masih harus bolak-balik Pekalongan-Bandar Lampung untuk mengawasi produksi batiknya karena tenaga kerja asli Lampung yang pernah ia ikutkan pelatihan pembuatan batik di Pekalongan tidak bisa awet. ”Membuat batik itu tidak sama dengan membuat barang lain. Batik membutuhkan kesabaran dan keuletan. Ini yang tidak dimiliki tenaga kerja asli Lampung,” ujar Gatot.
Kendala ini membuat ia memilih bolak-balik PekalonganBandar Lampung demi memproduksi batik Lampung berkualitas dengan harga terjangkau.
Upaya penjiplakan kreasinya oleh pihak lain, ia jawab dengan kreasi motif baru yang lebih rumit. Sebagai penanda keaslian kreasi, Gatot selalu mencetak merek dagang Gabovira di bawah motif.
Batik sudah disahkan UNESCO sebagai warisan budaya bukan benda. Ia berharap masyarakat Indonesia tak lagi sungkan mengenakan batik pada berbagai kesempatan. Pemerintah agar terus memberi contoh cinta batik dan mendukung pengembangan batik oleh perajin.