
Sabtu, 21 November 2009 | 03:27 WIB
Jakarta, Kompas
Akhir tahun lalu, upaya pelaku usaha untuk mendapatkan tambahan modal dari pelepasan saham perdana (IPO) tertunda karena kondisi pasar modal yang menurun dengan melorotnya harga-harga saham.
”Akhir tahun lalu, kami memang sudah menyampaikan rencana IPO, tetapi kami tunda karena harga saham sedang turun. Kami ulang lagi pada kesempatan ini dengan harga yang sama,” ungkap Direktur Investasi Perbankan dari Overseas Securities, yang menjadi penjamin emisi IPO PT Bumi Citra Permai Terbuka, Rudy Tuahunse, di Jakarta, Jumat (20/11), seusai menyampaikan rencana itu kepada media massa.
Bumi Citra Permai adalah pengembang kawasan industri bernama Millenium Industrial Estate di Cikupa, Tigakarsa, Tangerang, seluas 169,76 hektar.
Ini adalah kawasan yang khusus diperjualbelikan kepada pelaku usaha yang membutuhkan kapling-kapling tanah dan bangunan untuk gudang atau rumah toko.
Melalui IPO, perusahaan ini berharap dapat meraup dana segar Rp 55 miliar hingga Rp 60 miliar. ”Dana yang kami peroleh itu akan digunakan untuk pembebasan lahan seluas 40 hektar di Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, yang akan menambah luas lahan yang kami kelola saat ini, yakni 169,76 hektar,” ungkap Rudy.
Pembebasan lahan itu menyedot 70 persen dana hasil IPO tersebut. Bumi Citra juga akan mengalokasikan dana 20 persen untuk pembangunan infrastruktur. Sisanya, 10 persen dari dana hasil IPO akan dipakai untuk menambah modal kerja.
Perusahaan berharap harga saham saat IPO akan berada pada kisaran Rp 110-Rp 125 per lembar.
”Dengan pelepasan saham ini, persentase kepemilikan saham masyarakat akan mencapai 41,67 persen,” ujar Rudy.
Adapun Direktur PT Bumi Citra Permai Rudi Wijaya mengatakan, pihaknya sangat optimistis pada iklim bisnis dalam pengembangan kawasan industri.
Saat ini, ujar Rudi Wijaya, pelaku usaha asing sudah mulai kembali ke Indonesia karena merasa jauh lebih aman dibandingkan akhir tahun 2008.
Selain itu, para pengusaha asing itu juga mulai memperhitungkan ongkos tenaga kerja di Indonesia yang lebih murah ketimbang investasi di Vietnam.
”Dengan kondisi itu, kami yakin permintaan atas kawasan industri terpadu akan meningkat. Itu ditandai juga dengan adanya uang muka yang sudah masuk ke kas kami. Itu menunjukkan adanya permintaan di areal ini,” ungkap Rudy.