
Sabtu, 21 November 2009 | 03:27 WIB
”Dengan adanya Jembatan Selat Sunda, sektor pertanian, pariwisata, transportasi akan tumbuh. Perekonomian daerah akan berkembang karena kue ekonomi yang ditimbulkan dari pembangunan jembatan makin besar,” kata Ketua Umum Dewan Hortikultura Nasional Benny A Kusbini, Jumat (20/11) di Jakarta.
Menurut Benny, jangan melihat pembangunan jembatan itu dari kacamata sempit. Seperti besarnya anggaran yang mencapai Rp 117 triliun, serta sepinya transportasi laut sekarang.
Namun, harus melihat jangka panjang. Bagaimana kehadiran jembatan itu menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan tersambungnya Jawa-Sumatera akan mendorong pembangunan infrastruktur lain di Jawa dan Sumatera. Mobilitas barang dan manusia jadi lebih murah dan lancar sehingga barang produk Indonesia dapat lebih kompetitif.
”Kita tidak bisa lagi mengandalkan distribusi barang yang sangat bergantung pada laut karena akan menghambat,” katanya. Menurut Benny, jeruk medan tidak pernah menguasai pasar domestik karena mahalnya biaya distribusi dari Medan ke Jawa. Ketika harga jeruk murah, pendapatan petani rendah sehingga daya beli juga rendah.
Benny menyarankan, seharusnya pembangunan tidak cukup hanya Jembatan Selat Sunda, tetapi harus ada Tol Trans Sumatera-Jawa. Begitu pula dengan jalur kereta apinya juga harus diadakan.
Wakil Menteri Perhubungan, Bambang Susantono mengatakan, Jembatan Selat Sunda tidak cukup hanya mengakomodasi jalan tol, tetapi juga jalur kereta. Nantinya, kereta akan dimanfaatkan mengangkut barang.
Di Sumatera Selatan dan Lampung, jalur rel terbentang dari Kertapati (Palembang) hingga Tarahan, dan Lubuklinggau hingga Tarahan.
Jalur KA itu dimanfaatkan mengangkut batu bara dari tambang PT Bukit Asam menuju PLTU Suralaya di Merak, Banten. ”Ketika konstruksi jembatan itu dikerjakan, juga harus dipikirkan pemindahan feri yang melayani penyeberangan Merak-Bakauheni,” tutur Bambang. Kini, ada sekitar 3 kapal feri yang beroperasi di lintas itu.
Ketinggian jembatan itu juga harus dijaga sebab Selat Sunda merupakan Alur Laut Kepulauan Indonesia. Jadi, jangan sampai mengganggu lalu lintas kapal berbendera internasional. (MAS/RYO)