Rabu, 10 Februari 2010
Berebut Jadi Nomor Wahid
Federer dan Nadal Tidak Prima

Sabtu, 21 November 2009 | 03:48 WIB

London, Jumat - Roger Federer dan Rafael Nadal akan menuntaskan perseteruannya musim ini saat keduanya menjejakkan kaki di turnamen ATP World Tour Final, mulai hari Minggu (22/11) besok di London, Inggris. Nadal berpeluang menjadi petenis nomor wahid jika tidak terkalahkan di London.

Federer sendiri berpeluang mempertahankan posisinya dengan keunggulan 945 poin dibandingkan dengan Nadal dalam daftar peringkat Asosiasi Tenis Profesional (ATP). Namun, maestro Swiss yang tahun ini memecahkan rekor Pete Sampras, dengan merebut gelar grand slam ke-15 itu, tidak terlalu meyakinkan selepas Amerika Serikat Terbuka.

Terakhir, Federer kalah pada babak kedua turnamen ATP Master Paris melawan petenis tuan rumah, Julien Benneteau. Sebelumnya, Federer takluk di tangan Novak Djokovic dalam final turnamen Davidoff Swiss Indoors di Basel.

Kinerja buruk Federer tidak jauh berbeda dengan Nadal yang terus bergulat dengan cedera lutut dan telapak kaki. Nadal, yang musim ini kehilangan gelar Grand Slam Perancis Terbuka setelah kalah dari Robin Soderling, belum mampu mengembalikan kondisinya pada posisi puncak. Di Paris Masters, Nadal kalah mudah di tangan Djokovic di semifinal. Sebelumnya, dia juga harus berjuang selamat dari lima match point saat berhadapan dengan kompatriotnya, Nicolas Almagro.

Turnamen ATP World Tour Final diikuti delapan petenis putra terbaik dan delapan pasangan putra terbaik. Mereka dibagi dalam dua grup dan bertanding menggunakan sistem round robin pada babak penyisihan. Dua petenis terbaik dalam setiap grup berhak lolos ke semifinal.

Dalam pembagian grup yang berlangsung pada Rabu lalu, di atas kertas Nadal lebih berpeluang lolos ke semifinal dibandingkan dengan Federer yang menghuni grup keras bersama Andy Murray, Juan Martin del Potro, dan Fernando Verdasco.

Del Potro, meski belum stabil penampilannya, mampu mengalahkan Federer pada final AS Terbuka 2009. Petenis jangkung asal Argentina ini selalu tampil bagus jika bertemu pemain peringkat 10 besar.

Sementara itu, Murray selalu menjadi lawan yang menyebalkan bagi Federer. Gaya bermain Murray, yang cenderung bertempo lambat dengan pukulan-pukulan tajam dari garis belakang, sering kali membuat Federer patah arang dan terpaksa melakukan kesalahan sendiri. Dalam sembilan pertemuan terakhir, Federer kalah enam kali dari petenis asal Skotlandia itu.

Meski di atas kertas grup Nadal lebih ringan, tetapi mengingat kondisinya belum 100 persen, perjalanan petenis kelahiran Manacor, Spanyol, itu pun tak akan mudah. Lawan terberatnya tentu saja Djokovic yang grafik penampilannya terus menanjak dengan menjuarai turnamen Basel dan Paris.

Selain Djokovic, ancaman besar datang dari Nikolay Davydenko. Petenis Rusia kelahiran Belarus ini memang tidak tampil luar biasa pada musim 2009. Namun, dalam turnamen ATP Masters di Shanghai, China, Davydenko menunjukkan potensinya sebagai ”kuda hitam” bagi petenis-petenis unggulan.

Tidak saja mengalahkan Nadal di final, determinasi dan konsistensi petenis—yang pernah diisukan ”bergandengan tangan” bandar judi—ini sulit ditandingi. Nadal layak belajar banyak dari kekalahannya di final Shanghai. Sementara grafik penampilan Soderling—yang menggantikan posisi Andy Roddick yang cedera— tidak pernah menanjak selepas Perancis Terbuka.

Murray akan mengawali turnamen dengan melawan juara AS Terbuka, Del Potro, hari Minggu. Federer akan berjumpa Verdasco pada laga kedua. Turnamen berlangsung di O2 Arena, di tepi Sungai Thames.

Pemain yang sanggup menjuarai turnamen ini tanpa pernah kalah berhak atas hadiah uang 1 juta poundsterling (sekitar Rp 15 miliar). Hadiah ini lebih besar Rp 2,25 miliar daripada prize money yang diterima Federer saat menjuarai Grand Slam Wimbledon 2009. (reuters/afp/joy)

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: