Rabu, 10 Februari 2010
Wisata Sejarah
Museum Kailasa Dieng
Jalan-jalan

Sabtu, 21 November 2009 | 14:33 WIB

 

Apalah artinya sebuah bangsa tanpa mengenal sejarahnya. Kiranya kesadaran itulah yang melatari pembangunan gedung yang memuat berbagai informasi geologi, arkeologi, sejarah, dan etnografi masyarakat Dieng yakni Museum Kailasa.

Museum itu dekat dengan kompleks Candi Arjuna yang merupakan satu situs candi dari delapan situs candi yang ada di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, sekitar 300 meter dari jalan utama Banjarnegara-Dieng-Wonosobo, yang ditandai dengan gapura Museum Kailasa.

Jangan melewatkan museum itu jika berkunjung ke Dieng. Alam dan candi-candi di dataran tinggi yang berada sekitar 2.000 sampai 2.100 meter di atas permukaan laut ini memesona. Seluruhnya bak mosaik jejak peradaban Dieng.

Minimal ada empat tema di dalam museum itu, kondisi geologi dataran Dieng, keanekaragaman fauna dan flora, tradisi kehidupan warga setempat berikut keseniannya yang menjadi bagian etnografi masyarakat Dieng, dan sejarah lengkap dengan data arkeologis pembangunan candi-candi Dieng.

Semua benda disertai dengan informasi singkat yang mudah dimengerti. Jadi, tidak perlu mengerutkan kening untuk mengunjungi museum ini. Malahan pengunjung diajak berkelana ke masa lampau kala candi-candi itu mulai dibangun.

Ruangan pameran museum berbentuk melingkar. Pintu masuk pengunjung di sisi kiri sehingga semua pengunjung bergerak searah jarum jam dan keluar di pintu sisi kanan.

Searah jarum jam dari titik pukul 07.00 dipamerkan jenis bebatuan yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Salah satunya adalah batuan andesit dewasa yang diambil dari salah satu situs Dataran Tinggi Dieng, Gunung Sipandu. Ada kaca pembesar agar pengunjung lebih leluasa mengamati bebatuan itu.

Bebatuan itu mewakili sejarah terbentuknya Dataran Tinggi Dieng sebagai dampak dari letusan purba Gunung Prahu. Bekas letusan itu meninggalkan 26 kawah dan sembilan di antaranya aktif.

Sebagai kawasan kawah yang masih aktif, tanah Dieng subur. Museum Kailasa memiliki koleksi arca burung. Pada masa lampau, Dieng adalah tempat berkembangbiaknya 19 jenis burung endemik termasuk elang jawa.

Selain itu, ada pula panel lain yang memaparkan ragam kesenian di Dieng. Menurut seorang pemandu museum, Dieng Arifin (27), Dieng termasuk daerah yang paling awal di Indonesia menerima pengaruh agama Hindu.

"Meski di Dieng sudah tidak ada pemeluk Hindu, kesenian setempat masih melestarikan nilai-nilai yang bernapaskan agama Hindu," katanya. (Madina Nusrat)

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: