Rabu, 10 Februari 2010
kompas/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Kelompok jazz Bassgroove 100 dari Malaysia tampil di panggung Condrolukito pada perhelatan Ngayogjazz 2009 di Pasar Seni Gabusan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Sabtu (21/11).
GERAKAN BUDAYA
Ngayogjazz, Perlawanan Jazz Kampung

Minggu, 22 November 2009 | 03:33 WIB

DAHONO FITRIANTO

”Jazz Basuki Mawa Beya”. Tidak ada yang gratis untuk mencapai kesempurnaan di dunia ini, termasuk jazz.

Tidak gratis bukan hanya dalam konteks uang atau biaya materi lainnya, tetapi juga pengorbanan nonmateri, seperti waktu, tenaga, pikiran, dan daya kreativitas. Itulah semboyan dan filosofi yang mendasari Ngayogjazz 2009, sebuah festival jazz unik di tanah Ngayogyakarta Hadiningrat, nama lain Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ngayogjazz 2009 digelar di arena Pasar Seni Gabusan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Sabtu (21/11). Beberapa nama musisi jazz nasional, seperti Dwiki Dharmawan, Dewa Budjana, Bintang Indrianto, I Wayan Sadra & Sono Seni Ensembel, dan nama-nama internasional, seperti duo Harri Stojka dan Claudius Jelinek dari Austria serta kelompok Bassgroove 100 dari Malaysia, memeriahkan empat panggung di Gabusan.

Tahun ini adalah tahun ketiga hajatan kebudayaan yang digagas komunitas pencinta jazz Yogya itu digelar. ”Ini bukan sekadar festival musik, tetapi juga sebuah gerakan kebudayaan,” tutur Djaduk Ferianto, musisi jazz sekaligus salah satu penggagas dan Direktur Ngayogjazz 2009.

Gerakan kebudayaan yang dimaksud Djaduk adalah mendekatkan jazz ke tengah rakyat jelata. Untuk itu, festival pun terbuka gratis untuk umum dan digelar di tempat-tempat paling dekat dengan rakyat. ”Ini bukan proyek untuk mencari profit,” ujar Djaduk.

Setelah gelaran pertama di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (yang terletak di tengah Desa Kasihan, Bantul), Ngayogjazz 2008 digelar di tengah permukiman Desa Tembi, Bantul. Panggung pun ada yang dibangun di tanah lapang di tengah desa, sebidang tanah kosong di samping rumah penduduk, dan satu lagi bahkan didirikan di sebelah kuburan.

Para pedagang asongan, yang selalu muncul setiap ada keramaian apa pun di desa, dibiarkan menggelar dagangannya di jalan-jalan desa. Sebuah pesta rakyat yang sesungguhnya pun tercipta secara alamiah.

Begitu juga suasana Ngayogjazz 2009 di Pasar Seni Gabusan yang mengingatkan pada suasana pasar malam. Saat David Manuhutu tampil di Panggung Basiyo dan I Wayan Sadra bersama Sono Seni Ensembel memukau penonton di Panggung Condrolukito (panggung-panggung di acara ini dinamakan menurut para maestro seniman tradisional Yogya, yakni Nyi Condrolukito, Ki Tjokrowasito, Basiyo, dan Kusbini), pengunjung lain dapat menikmati jajanan rakyat, seperti wedang ronde atau warung angkringan, di arena pasar.

Basis

Dalam suasana meriah itu, penduduk desa pun diharapkan menangkap, memahami, dan menikmati apa yang tersaji di panggung secara alamiah, tanpa paksaan, tanpa dibuat-buat, dan tanpa berpura-pura demi menaikkan gengsi. ”Jazz selalu diidentikkan dengan musik untuk orang-orang kelas tertentu. Padahal, jazz tidak ada bedanya sama jathilan alias kuda lumping,” ungkap Djaduk lagi.

Pada saat masyarakat secara tulus telah mencintai sesuatu, dalam hal ini seni bernama jazz, mereka pun akan terus membutuhkannya. Pada gilirannya akan tercipta sebuah ekosistem pendukung bagi tumbuhnya seni itu. ”Seniman-seniman kita sudah diakui bakat dan daya kreatifnya. Tetapi, pada saat masyarakat tidak diopeni, tidak dipedulikan dan tidak dilibatkan, maka tidak akan tercipta basis pendukung seni itu. Padahal, seni hanya bisa hidup saat ada basis masyarakat pendukungnya,” ujar pendiri kelompok musik jazz etnik Kua Etnika ini.

Maka, dari segi filosofi dan tujuannya ini, Ngayogjazz menjadi semacam gerakan perlawanan terhadap hajatan-hajatan musik lain yang umumnya masih berorientasi profit semata. Sebuah fenomena yang tidak hanya lumrah di negeri ini, tetapi juga terjadi hampir di seluruh belahan dunia.

Fritz Thom, Ketua International Jazz Festivals Organization (IJFO), yang hadir di Bantul untuk menyaksikan Ngayogjazz, Sabtu, mengatakan, kecenderungan festival-festival jazz besar di dunia menjadi makin komersial memang tak terelakkan. ”Honor artis (jazz) makin tinggi, sementara mengharapkan pemasukan dari tiket makin susah. Tak ada pilihan lain (untuk menarik minat penonton) kecuali dengan mengundang musisi- musisi dari genre yang lebih dikenal, seperti blues, pop, atau rock,” tutur ketua organisasi yang mengoordinasi penyelenggaraan 14 festival jazz besar dunia, termasuk North Sea, Montreux, dan Montreal Jazz Festival itu.

Dampak dari makin komersialnya festival-festival itu membuat sebagian artis jazz masuk dalam zona nyaman. ”Saya selalu jengkel saat ketemu artis jazz yang lebih memikirkan fasilitas apa yang mereka dapatkan daripada musiknya. Mereka hampir tidak pernah bereksperimen dalam musik dan memainkan gaya yang sama berulang-ulang,” tutur Thom yang juga pendiri dan Direktur Jazzfest Wien di Vienna, Austria.

Itu sebabnya, Thom berharap banyak terhadap festival jazz semacam Ngayogjazz. Peluang terjadinya sintesis antara musik arus utama musik jazz dan bentuk musik tradisional yang hidup di masyarakat. ”Itulah daya tarik jazz dari Indonesia yang selalu menggabungkan unsur musik tradisional yang kuat. Jujur saja, dalam hal ini Indonesia paling kuat dibandingkan dengan negara-negara lain,” ungkap Thom.

Share on Facebook
Nilai 5 A A A
Ada 4 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Nurcholis Hakim @ Minggu, 22 November 2009 | 23:46 WIB
Jazz kembali pada khitah-nya... musik rakyat... musik yg egaliter...
indarto @ Minggu, 22 November 2009 | 17:18 WIB
jogja selalu dekat dan merakyat....
Uba Ingan Sigalingging @ Minggu, 22 November 2009 | 15:15 WIB
Salut atas pergelaran NgayogJazz. Sebuah kerja kebudayaan yg menuntut kreativitas dan dedikasi tinggi. Jelas ini adalah sebuah program memanusiawikan musik jazz
trismon @ Minggu, 22 November 2009 | 07:24 WIB
Ini baru jazz, ini jazz baru. Maju terus bung Djaduk.

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: