
Minggu, 22 November 2009 | 03:33 WIB
DAHONO FITRIANTO
”Jazz Basuki Mawa Beya”. Tidak ada yang gratis untuk mencapai kesempurnaan di dunia ini, termasuk jazz.
Ngayogjazz 2009 digelar di arena Pasar Seni Gabusan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Sabtu (21/11). Beberapa nama musisi jazz nasional, seperti Dwiki Dharmawan, Dewa Budjana, Bintang Indrianto, I Wayan Sadra & Sono Seni Ensembel, dan nama-nama internasional, seperti
Tahun ini adalah tahun ketiga hajatan kebudayaan yang digagas komunitas pencinta jazz Yogya itu digelar. ”Ini bukan sekadar festival musik, tetapi juga sebuah gerakan kebudayaan,” tutur Djaduk Ferianto, musisi jazz sekaligus salah satu penggagas dan Direktur Ngayogjazz 2009.
Gerakan kebudayaan yang dimaksud Djaduk adalah mendekatkan jazz ke tengah rakyat jelata. Untuk itu, festival pun terbuka gratis untuk umum dan digelar di tempat-tempat paling dekat dengan rakyat. ”Ini bukan proyek untuk mencari profit,” ujar Djaduk.
Setelah gelaran pertama di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (yang terletak di tengah Desa Kasihan, Bantul), Ngayogjazz 2008 digelar di tengah permukiman Desa Tembi, Bantul. Panggung pun ada yang dibangun di tanah lapang di tengah desa, sebidang tanah kosong di samping rumah penduduk, dan satu lagi bahkan didirikan di sebelah kuburan.
Para pedagang asongan, yang selalu muncul setiap ada keramaian apa pun di desa, dibiarkan menggelar dagangannya di jalan-jalan desa. Sebuah pesta rakyat yang sesungguhnya pun tercipta secara alamiah.
Begitu juga suasana Ngayogjazz 2009 di Pasar Seni Gabusan yang mengingatkan pada suasana pasar malam. Saat David Manuhutu tampil di Panggung Basiyo dan I Wayan Sadra bersama Sono Seni Ensembel memukau penonton di Panggung Condrolukito (panggung-panggung di acara ini dinamakan menurut para maestro seniman tradisional Yogya, yakni Nyi Condrolukito, Ki Tjokrowasito, Basiyo, dan Kusbini), pengunjung lain dapat menikmati jajanan rakyat, seperti wedang ronde atau warung angkringan, di arena pasar.
Dalam suasana meriah itu, penduduk desa pun diharapkan menangkap, memahami, dan menikmati apa yang tersaji di panggung secara alamiah, tanpa paksaan, tanpa dibuat-buat, dan tanpa berpura-pura demi menaikkan gengsi. ”Jazz selalu diidentikkan dengan musik untuk orang-orang kelas tertentu. Padahal, jazz tidak ada bedanya sama
Pada saat masyarakat secara tulus telah mencintai sesuatu, dalam hal ini seni bernama jazz, mereka pun akan terus membutuhkannya. Pada gilirannya akan tercipta sebuah ekosistem pendukung bagi tumbuhnya seni itu. ”Seniman-seniman kita sudah diakui bakat dan daya kreatifnya. Tetapi, pada saat masyarakat tidak
Maka, dari segi filosofi dan tujuannya ini, Ngayogjazz menjadi semacam gerakan perlawanan terhadap hajatan-hajatan musik lain yang umumnya masih berorientasi profit semata. Sebuah fenomena yang tidak hanya lumrah di negeri ini, tetapi juga terjadi hampir di seluruh belahan dunia.
Fritz Thom, Ketua International Jazz Festivals Organization (IJFO), yang hadir di Bantul untuk menyaksikan Ngayogjazz, Sabtu, mengatakan, kecenderungan festival-festival jazz besar di dunia menjadi makin komersial memang tak terelakkan. ”Honor artis (jazz) makin tinggi, sementara mengharapkan pemasukan dari tiket makin susah. Tak ada pilihan lain (untuk menarik minat penonton) kecuali dengan mengundang musisi- musisi dari
Dampak dari makin komersialnya festival-festival itu membuat sebagian artis jazz masuk dalam zona nyaman. ”Saya selalu jengkel saat ketemu artis jazz yang lebih memikirkan fasilitas apa yang mereka dapatkan daripada musiknya. Mereka hampir tidak pernah bereksperimen dalam musik dan memainkan gaya yang sama berulang-ulang,” tutur Thom yang juga pendiri dan Direktur Jazzfest Wien di Vienna, Austria.
Itu sebabnya, Thom berharap banyak terhadap festival jazz semacam Ngayogjazz. Peluang terjadinya sintesis antara musik arus utama musik jazz dan bentuk musik tradisional yang hidup di masyarakat. ”Itulah daya tarik jazz dari Indonesia yang selalu menggabungkan unsur musik tradisional yang kuat. Jujur saja, dalam hal ini Indonesia paling kuat dibandingkan dengan negara-negara lain,” ungkap Thom.