
Senin, 23 November 2009 | 03:18 WIB
Pemalang, Kompas
Selain korban tewas, sambaran petir juga menyebabkan enam petani yang berteduh itu mengalami luka. Dua di antaranya, Rajem (35) dan Rohayati (24), hingga kemarin masih dirawat di rumah sakit, sedangkan empat lainnya—Sumiyati, Komar, Lastri, dan Rohyati—hanya berobat jalan.
Camat Randudongkal Purjanto mengatakan, pada sore itu ke-13 petani sedang memanen padi di sawah. Karena turun hujan, mereka berteduh di gubuk tengah sawah. ”Tiba-tiba, petir menyambar gubuk tersebut dan mengakibatkan mereka terpental,” katanya.
Dari 13 petani itu, Sarjono merupakan satu-satunya petani yang membawa telepon seluler. ”Kemungkinan petir mengenai ponsel korban,” ujar Purjanto.
Dalam setahun terakhir, dua kali bencana petir terjadi di Kecamatan Randudongkal. Februari lalu, seorang petani di wilayah itu juga tewas tersambar petir.
Selain bahaya petir, memasuki musim penghujan ini, antisipasi dilakukan pemerintah daerah terhadap potensi pohon tumbang. Hal itu, antara lain, dilakukan dengan cara menebang pohon yang rawan tumbang.
Sekretaris Tim SAR Pemalang Lutfi Amin menambahkan, tim SAR juga telah menyosialisasikan keberadaan posko SAR kepada masyarakat dan menambah personel, dari 25 orang menjadi 40 orang. ”Beberapa daerah rawan longsor di Pemalang, antara lain, Kecamatan Pulosari, Belik, Warungpring, dan Watukumpul,” ujarnya.
Antisipasi bencana juga dilakukan Pemerintah Kabupaten Tegal dengan membentuk Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana. Kepala Kantor Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Tegal Bambang Puji Waluyo mengatakan, di wilayahnya, ada beberapa daerah yang rawan longsor. Daerah itu, antara lain, Kecamatan Bumijawa, Bojong, Jatinegara, dan sebagian Balapulang.