
Senin, 23 November 2009 | 04:10 WIB
Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rianto Setiabudy dalam presentasinya pada Muktamar Dokter Indonesia XXVII di Kota Palembang, Sabtu (21/11), menyatakan, masih banyak dokter yang memberikan obat-obatan secara irasional.
Misalnya untuk influenza. Menurut Rianto, penanganan penyakit yang lazim dialami orang tersebut sebenarnya cukup tiga item, yakni batuk, panas, dan pilek. Namun, dalam praktiknya, banyak dokter yang memberi resep tambahan, seperti obat tidur, vitamin, dan antibiotik.
”Pemberian obat secara berlebihan sebenarnya tidak perlu dan berpotensi menyebabkan efek samping karena obat-obatan saling bereaksi secara kimia di dalam tubuh pasien,” ungkap
Bahkan, pada tingkatan ekstrem, Rianto melanjutkan, konsumsi obat secara berlebihan bisa menimbulkan malpraktik. Dari sisi pelayanan medis sendiri, hal itu menyebabkan merosotnya kualitas pengobatan. Pada gilirannya, masyarakat bisa tidak percaya lagi kepada dokter.
”Jadi kuncinya adalah gunakan obat seperlunya untuk tujuan yang benar, dengan dosis yang benar, lama pengobatan yang benar, dan perhatikan efek sampingnya.” kata Rianto.
Konsumsi secara berlebihan tersebut bukan berarti produksi obat-obatan di Indonesia sudah berlebihan pula. Kenyataannya, malah justru sebaliknya.
Menurut Rianto, konsumsi obat secara berlebihan terjadi pada masyarakat yang telah memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan, sementara yang belum memiliki akses tersebut justru kekurangan obat.
Pada kesempatan yang sama, Managing Director PT Dexa Medica Ferry A Soetikno menyatakan, konsumsi obat-obatan di Indonesia masih jauh di bawah Thailand, Filipina, dan Malaysia. Ini terjadi karena jaminan pembiayaan kesehatan belum menjangkau seluruh masyarakat.
Pada tahun 2008, konsumsi obat-obatan masyarakat Indonesia rata-rata 11 dollar Amerika Serikat per kapita per tahun. Bandingkan dengan Malaysia yang 22 dollar AS per kapita per tahun atau Thailand yang telah mencapai 38 dollar AS per kapita per tahun.
Secara terpisah, Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran IDI Agus Purwadianto menyatakan, pemberian obat secara berlebihan bisa jadi karena dorongan kepentingan komersial. Hal ini tidak sehat.
”Dokter itu selalu berada pada pergumulan antara panggilan profesi yang menempatkan kemanusiaan di atas segalanya dan kepentingan finansial keluarganya sendiri. Di sini seharusnya kode etik kedokteran membingkai dan selalu menjadi acuan dokter untuk mengambil tindakan medis,” kata Agus.