
Senin, 23 November 2009 | 15:13 WIB
Oleh AAN ZAINAL HAFID
Musim hujan sudah tiba. Di Kota Bandung, bayangan banjir mulai menghantui segenap warga kota. Di Kabupaten Bandung, banjir yang biasa terjadi akibat meluapnya Sungai Citarum membuat warga waswas, terutama mereka yang tinggal di daerah wilayah tempat "parkir air" sementara Sungai Citarum.
Ironisnya, banjir yang senantiasa datang setiap musim hujan itu, selama bertahun-tahun, tak kunjung teratasi. Banjir yang kerap meluber di banyak jalanan kota itu ternyata belum mampu mengentak kesadaran kita untuk bisa berdisiplin, mempertebal rasa tanggung jawab, dan kemudian berbuat.
Ada peribahasa, keledai tidak mau terperosok ke lubang yang sama. Namun, warga bangsa ini tidak pernah mau belajar dari pengalaman yang terus berulang terjadi setiap tahun. Pada musim kemarau, krisis air terus melanda karena kita tidak pernah bisa memanen air pada musim hujan.
Malah pada musim hujan, air berlimpah dan menimbulkan banjir karena kita tidak bisa menyimpannya pada daerah tangkapan air akibat hutan digunduli, dijarah, atau dialihfungsikan tanpa mengikuti kaidah-kaidah lingkungan.
Lalu, kapan kita akan mempunyai kepekaan, kearifan, dan kesigapan dalam menghadapi banjir? Padahal, dilihat dari perspektif lain, banjir yang datang sesungguhnya mengingatkan agar kita cepat berbenah. Maka, jauh di titik kontemplasi, kita layaknya mengevaluasi diri. Karena meski telah sekian lama didera banjir, kita ternyata belum juga mampu membuat kita memiliki kesadaran kolektif untuk memperbaiki perilaku yang keliru dalam memperlakukan alam dan lingkungan.
Menatap masa depan
Hanya untuk perilaku sederhana saja, semisal keharusan membuang sampah pada tempatnya, kita ternyata belum bisa. Bahkan, masih kerap kita saksikan, orang yang mengendarai mobil mewah sekalipun, dengan seenaknya, membuang sampah di jalanan. Kita masih jauh dari sikap mental yang bersahabat, menjaga, mencintai, serta melestarikan alam dan lingkungan. Bahkan, perusakan alam dan lingkungan masih terus berlangsung di sana-sini.
Maka, salahkah bila dikatakan bahwa sikap mental kita sesungguhnya belum beranjak dari perilaku yang mengedepankan keuntungan dan kepentingan sesaat? Lantas siapa yang akan bertanggung jawab bila di kemudian hari terjadi bencana lebih besar karenanya? Apakah kita hanya akan kembali pada sikap yang saling menyalahkan?
Lihatlah sungai-sungai yang membelah kota yang dulu berair jernih dan menjadi sumber kehidupan kini hitam legam karena limbah industri. Pada musim hujan, ia menjadi sumber malapetaka karena air meluap, atau tanah-tanah lapang dan persawahan di pinggiran kota yang dulu bisa ditanami untuk bahan makanan sehari-hari kini hampir hilang tanpa sisa akibat terdesak oleh arus industrialisasi yang kurang perhitungan dan perencanaan matang. Inilah episode ketika kita sedang menuai badai dari angin yang dengan semena-mena kita taburkan.
Suatu sore, saya menyaksikan beberapa bocah sedang terlibat pembicaraan. Wajah-wajah polosnya dihiasi ketidakmengertian ketika mereka pun merasakan repotnya menghadapi banjir yang selalu datang. Mereka merasa takut dan repot ketika berangkat atau pulang sekolah pada musim hujan karena banjir menyergap jalanan kota tanpa ampun. Inilah serpihan potret anak-anak yang seharusnya mampu membuat kita terenyuh.
Dalam usia yang seharusnya dipenuhi keriangan, anak-anak kita ternyata banyak diliputi ketakutan. Sebuah rentetan pengalaman traumatik yang mungkin saja tidak dialami orangtua mereka pada masa kanak-kanak dulu. Meski mereka mengerti dari pelajaran di sekolah bahwa perilaku yang merusak alam dan lingkungan akan membawa bencana, mereka tidak mengerti bahwa bencana, semacam banjir atau longsor, adalah akibat perilaku orang dewasa yang seharusnya mampu membimbing mereka menjaga dan mencintai alam. Maka, menatap masa depan kehidupan mereka adalah sebuah kerisauan. Bagaimana kehidupan mereka kelak ketika saat ini saja alam sering menunjukkan murkanya?
Krisis perilaku
Sekarang kita sedang berada dalam krisis perilaku di hadapan alam. Alam dipandang sebagai sesuatu yang bisa diperlakukan apa saja. Ia dikuliti dan disakiti. Maka, kita kini sesungguhnya sedang mempertaruhkan masa depan generasi penerus. Sungguh, membayangkan masa depan anak cucu kita merupakan sebuah kengerian andai kita tidak mau mengubah perilaku secepatnya.
Saya sering membayangkan, apa yang akan terjadi 10 atau 20 tahun ke depan? Masihkah anak cucu kita mengenal udara yang sejuk, sungai yang jernih, gunung yang rimbun, atau laut yang tenang beriak? Mereka mungkin justru akan hidup di tengah udara panas di bawah ancaman bencana di setiap helaan napasnya.
Maka, dari kesederhanaan kata dan logika, mudah-mudahan saja justru ada bagian yang menelusup jiwa kita semua. Sebab, bukankah teori-teori telah diuraikan, kajian-kajian ilmiah tentang kerusakan alam dan dampaknya telah dipaparkan, tetapi kita masih diliputi kebutaan hati? Andai kita mampu membenahi perilaku yang hanya berorientasi keuntungan dengan memperdaya alam, mungkin anak cucu kita akan terselamatkan. Namun, andai masih tetap bebal, kita akan melanjutkan episode ini dengan kisah-kisah dramatik yang mungkin tak terbayangkan.
Kini pilihan ada di tangan kita. Apakah kita akan memperpanjang penderitaan dengan selalu menuai bencana, atau ingin menyudahinya dengan segera membenahi sikap mental kita? Bukankah bencana seperti banjir itu bisa dicegah?
Mari, tunjukkan bahwa kita memang makhluk yang berbudi dan bisa menjadi sahabat sejati bagi alam yang telah menyediakan sumber kehidupan.
AAN ZAINAL HAFID Kepala Instalasi Laboratorium Praktikum Profesi Pekerjaan Sosial dan Media Halaman D pada BBPPKS Bandung