
Selasa, 24 November 2009 | 09:49 WIB
Ditemani sepiring tahu goreng, Bibit Samad Rianto menyimak siaran langsung pidato Presiden dari televisi 20 inci di ruang depan. Istrinya, Titik Sugiharti, menonton di ruang dalam bersama anak-anak dan cucu.
Tak ada senyum puas tersungging hingga pidato Presiden berakhir. Suasana sedikit tegang dan beberapa wartawan yang ikut meramaikan rumah Bibit saling berbisik. ”Apa sih maksud Presiden?” tanya seorang di antara mereka.
Bibit mencoba menjawab, ”Yang saya tangkap, Presiden tidak menghendaki ke pengadilan. Masalah kewenangan diserahkan ke polisi dan kejaksaan, bisa SP3 atau SKPP.”
Pidato Presiden memang masih menyisakan tanda tanya. ”Masih enggak jelas. Masih muter. Tetapi, mungkin maksudnya tidak diteruskan ke pengadilan,” kata Titik, mencoba menafsirkan. Namun, Titik mengaku sedikit lebih lega.
Puaskah Bibit? ”Perkara puas atau tidak, nanti dulu,” katanya. ”Coba Anda bayangkan dalam posisi saya. Anda tidak berbuat apa-apa, tidak memeras, tapi dituduh seperti itu,” katanya.
Bibit memang sakit hati. ”Saya sakit sekali ketika tuduhan penyuapan dan segala tuduhan lain diarahkan ke saya, ditayangkan di televisi. Ya, memang sakit sekali ketika cucu-cucu bertanya, apa benar kakek seperti itu,” katanya.
Teman-teman yang tahu tentang Bibit kebanyakan marah. ”Kalau yang enggak tahu tentang saya, mungkin sinis. Itu sudah jenderal bintang dua, sudah pensiun, kok, masih begitu. Mau cari uang,” kata Bibit.
”Padahal, kalau saya mau cari uang, ya waktu di Kapolda Kaltim. Ada 234 kasus illegal logging yang saya tangani. Ada yang mau beri Rp 500 juta satu kasus. Berapa banyak kalau saya mau nilep?” katanya.
Kurang satu tahun di Kaltim, Bibit kemudian digeser. ”Mungkin dianggap tidak bisa setoran. Saya ingin menegakkan hukum ketika jadi polisi. Termasuk ketika melamar di KPK, juga ingin menegakkan hukum,” katanya.
Bibit menuntut nama baiknya direhabilitasi, dan posisinya dikembalikan sebagai pemimpin aktif KPK. ”Perkara mundur atau tidak, itu tergantung saya. Tidak bisa dipaksa-paksa.” Bibit menampik adanya tawaran agar dirinya mundur dari KPK.
Bagi Bibit, pidato Presiden malam itu belum akhir dari segalanya. Ini masih satu babak dari babak lain yang mungkin akan bergulir.
”Lho, apa kesimpulannya?” Begitu mayoritas pertanyaan dari sekitar seratus orang, yang sebagian besar wartawan yang memenuhi auditorium Gedung KPK, sesaat setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakhiri pidatonya.
Ketika pandangan diarahkan ke meja di samping televisi, tempat Chandra M Hamzah duduk bersama dengan dua penasihat hukumnya, Taufik Basari dan Alexander Lay, kebingungan juga tampak di wajah mereka. ”Kami belum mendapatkan poinnya. Memang ada sinyal untuk menghentikan perkara ini, tapi belum jelas caranya bagaimana,” kata Taufik.
”Ya, kita tunggu saja perkembangannya dalam dua tiga hari ini. Tindakan apa yang akan dilakukan aparat berwenang. Saya dan Pak Bibit dalam posisi tidak punya pilihan,” kata Chandra.
Saat di ruang humas KPK, sambil mengisap rokok Chandra yang berusaha sabar juga kembali menegaskan tidak akan menukar penyelesaian kasusnya dengan tindakan seperti mundur dari KPK atau menghentikan pengusutan kasus yang sedang diusut KPK.
Namun, jawaban itu seolah makin menambah kelelahan fisik dan mental Chandra yang sepanjang Senin itu disibukkan oleh berbagai acara. Mulai dari melakukan wajib lapor ke Bareskrim Polri pada pagi hari, lalu bersama unsur pimpinan KPK bertemu Presiden pada siang hari, rapat dengan tim penasihat hukumnya di Puri Imperium pada sore hari, kemudian mendengarkan pidato Presiden pada malam hari.
Apalagi, seperti disampaikan Taufik Basari, ketika bertemu Presiden Yudhoyono pada siang hari, Presiden berujar akan menghentikan proses hukum terhadap Bibit dan Chandra tanpa syarat.
Meski demikian, ketika akan meninggalkan Gedung KPK sekitar pukul 21.30, Chandra masih sempat berusaha berseloroh, ”Kita mesti selalu bersyukur. Masih ada orang lain yang hidupnya lebih susah dibandingkan kita.”
Semalam, halaman Kantor Imparsial juga menjadi tempat nonton bersama sekitar 70 orang. Ray Rangkuti mondar-mandir di depan layar dan dua pengeras suara seadanya untuk memandu acara.
Di bangku penonton terlihat Yudi Latif dari Reform Institute, Moeslim Abdurrahman dari Muhammadiyah, Fadjroel Rachman, Adhie Massardi, Danang Widoyoko dari Indonesian Corruption Watch, musisi Franky Sahilatua, pengamat politik Sukardi Rinakit, Effendi Gazali, dan Usman Hamid dari Kontras.
Menjelang pukul 20.00, Ray bertanya kepada penonton, ”Apakah ada yang percaya Presiden Yudhoyono akan berpidato sesuai harapan? Apakah akan memuaskan, yaitu berhentikan kasus Bibit dan Chandra, pecat Jaksa Agung dan polisi, nama-nama yang ada di rekaman diusut, kembalikan Bibit dan Chandra? Siapa yang yakin angkat tangan?”
Ternyata tidak ada seorang pun yang mengangkat tangan.
Seusai Presiden berpidato, para penonton berdiri. ”Gue pusing, apa artinya tadi... apa?” kata Danang sambil geleng-geleng. Ia mengaku tidak mengerti apa isi pidato Presiden.
Bagi Danang, ungkapan Presiden yang menyatakan penyelesaian di luar pengadilan seperti mantra diulang-ulang tanpa makna yang jelas. Danang juga bingung, kenapa terlalu banyak masalah Bank Century dibahas di awal. ”Kita enggak nunggu itu. Itu masih panjang,” katanya.
Yudi Latif sambil menarik napas mengatakan, Presiden Yudhoyono terjebak pada logika dan kepentingan kekuasaan. ”Yang dibilang aspirasi publik itu cuma aksesori saja,” katanya.
Padahal, menurut Yudi, malam ini adalah momen yang sangat menentukan.