
Selasa, 24 November 2009 | 09:50 WIB
Mekkah, Kompas -
Menurut laporan wartawan Kompas Subhan SD semalam, semua kendaraan, baik pribadi maupun umum, dilarang melintasi jalan menuju Armina.
Hingga Senin (23/11), sejumlah jalan akses yang menuju kawasan Armina dijaga polisi, seperti Jalan Malik Fahd yang menuju Mina dan jalan selepas kawasan Aziziyah yang menuju Arafah. Semua kendaraan yang mencoba melewati jalan tersebut dilarang dan diarahkan putar balik oleh polisi.
Jemaah haji yang hendak berziarah ke Jabal Rahmah di Arafah otomatis dilarang. Hanya truk besar yang tengah mengangkut peralatan persiapan di kawasan tersebut yang diperbolehkan melintas.
Kawasan Armina semakin sibuk menjelang puncak ibadah, 26-30 November 2009. Sekitar 2,5 juta anggota jemaah akan melakukan wukuf di Arafah, kemudian dilanjutkan mabit di Muzdalifah dan Mina, serta melempar jumrah di Jamarat Mina. Saat ini pekerja terus melakukan persiapan di lokasi tersebut. Para pekerja melakukan persiapan dan pembenahan, baik keperluan tenda maupun persiapan arus pergerakan jemaah.
Makin padatnya jemaah di Mekkah mengakibatkan jalan-jalan di kota tersebut dilanda kemacetan hingga malam hari. Menjelang pukul 00.00, kemacetan di jalan masih parah. Para pengemudi berebutan dengan membunyikan klakson kencang-kencang.
”Jika musim haji, Mekkah selalu seperti ini. Bulan-bulan lainnya selalu lancar,” kata Tariq, pengemudi taksi.
Kemacetan terlihat, antara lain, di kawasan Aziziyah, Misfalah, Bakhutmah, dan Zaher. Kepadatan paling parah terutama di sekitar Masjidil Haram akibat banyaknya anggota jemaah yang hilir mudik di kawasan tersebut.
Di tengah kemacetan, banyak anggota jemaah yang berjalan kaki ke pemondokan karena bus angkutan umum hanya melayani rute Masjidil Haram hingga Terminal Mahbasjin.
Sementara itu, kemarin, Menteri Agama Suryadharma Ali melakukan rapat kerja dengan Komisi VIII DPR, yang mengawasi penyelenggaraan haji tahun ini, di kantor Daerah Kerja Mekkah di Jalan Malik Fahd. Rapat yang dipimpin Ketua Komisi VIII sekaligus Ketua Tim Pengawas Haji DPR Abdul Kadir Karding itu, antara lain, membahas masalah penting terkait penyelenggaraan haji, yaitu perumahan, transportasi, dan akomodasi.
Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Embarkasi Surabaya, Jawa Timur, mencatat 23 anggota jemaah haji meninggal dunia di Tanah Suci hingga Senin. Mayoritas jemaah meninggal karena mengalami gagal pernapasan, gagal jantung, serangan jantung, dan tuberkulosis.
”Kami tidak bisa menjelaskan secara detail penyebab pasti karena mereka meninggal saat berada di Tanah Suci. Namun, sebagian besar anggota jemaah yang meninggal memang masuk kategori risiko tinggi,” ungkap Kepala Bidang Tata Usaha Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya Suryadi, Senin di Surabaya.