
Rabu, 25 November 2009 | 03:29 WIB
Oleh NINOK LEKSONO
Sains dan inovasi, dua bidang yang akhir-akhir ini juga cukup menjadi wacana di Indonesia. Keduanya diakui besar peranannya bagi kemajuan bangsa. Sains mendorong masyarakat untuk ambil bagian dalam riset ilmu pengetahuan, sementara inovasi mendorong munculnya aktivitas mencari peluang-peluang baru bagi pemanfaatan sains dan teknologi, yang ujungnya bisa berwujud pada proses atau produk yang komersial.
Dalam riwayat bangsa-bangsa, pernah terjadi lomba yang seru antara Amerika dan Jepang di bidang sains dan inovasi. Bila melihat tolok ukur, seperti peraihan hadiah Nobel di bidang sains, tampak bahwa sejauh ini Amerika masih banyak mendominasi perolehan penghargaan sains. Namun,
mengingat bangsa-bangsa lain juga terus maju, sementara minat dan prestasi kalangan muda di Amerika sendiri terus surut, AS pun bermaksud memacu pengembangan minat ini dari usia dini.
Gedung Putih, Senin 23 November, merekrut perusahaan Elmo dan Big Bird, programmer video, dan ribuan ilmuwan untuk mendukung program yang diumumkan tidak kurang oleh Presiden Barack Obama. Momen itu juga menjadi kampanye guna mencari dukungan dari perusahaan dan kelompok organisasi nirlaba untuk memberikan dana, waktu, dan tenaga untuk mendorong siswa, khususnya di tingkat sekolah menengah, untuk belajar sains, teknologi, ilmu teknik/rekayasa, dan matematika.
Kampanye, seperti dilaporkan harian The New York Times (23/11), dinamai Educate to Innovate dan akan fokus ke aktivitas di luar ruangan kelas. Discovery Communication, misalnya, telah menjanjikan jadwal siang hari selama dua jam untuk tayangan bagi siswa sekolah menengah tanpa iklan.
Himpunan mahasiswa sains dan ilmu teknik juga menjanjikan jadi relawan untuk bekerja dengan siswa di kelas dan kemudian berpuncak pada acara National Lab Day bulan Mei nanti.
Dukungan juga muncul dari McArthur Foundation dan industri teknologi untuk memberikan hadiah dalam lomba pengembangan video game untuk pengajaran sains dan matematika.
Semua uluran tangan tersebut merupakan wujud tanggapan dari seruan presiden, kata Penasihat Sains Gedung Putih John P Holdren. Dapat juga ditambahkan, selain perusahaan, Gedung Putih juga berhasil menggaet perempuan antariksawan pertama AS, Sally Ride, dan mantan Chairman Intel, Craig Barrett, untuk bergabung, juga Ursula Burns, pemimpin eksekutif Xerox, untuk jadi penganjur pendidikan sains dan matematika bersama dengan kalangan perusahaan dan filantropis.
Program Educate to Innovate tampaknya memang lebih luas dibandingkan dengan program dengan tujuan serupa sebelumnya yang, walaupun sudah diluncurkan, masih gagal untuk mengangkat nilai-nilai pelajaran sains di kalangan siswa. Dalam sejumlah survei disebutkan, dalam tes sains dan matematika, siswa Amerika kalah dibandingkan dengan siswa asal negara Asia dan Eropa.
Penyebabnya banyak dikaji, mulai dari sistem pengajaran, kualitas guru, hingga kurikulum.
Bangsa Amerika yang sudah demikian maju saja dalam pencapaian sains dan teknologi kini merasa risau dengan minat dan prestasi bidang STEM (sains, teknologi, matematika, dan engineering).
Bangsa Indonesia semestinya juga melakukan langkah serupa. Di AS, program Educate to Innovate lahir setelah Presiden Obama berpidato bulan April lalu di depan National Academy of Science. Obama tidak mencanangkan program ke Mars, tetapi menggarisbawahi kerisauan kemunduran minat dan pencapaian sains di kalangan orang muda. Ia bertekad untuk menjadikan prestasi AS yang menengah jadi puncak.
Kita berharap di Indonesia pun muncul prakarsa serupa dari pimpinan nasional. Tentu program seperti ini hanya bisa muncul kalau urusan yang menghabiskan waktu dan pikiran seperti cicak versus buaya tidak lagi mendominasi panggung politik nasional.