
Rabu, 25 November 2009 | 04:27 WIB
Bogor, Kompas
Pertanian industrial dinilai paling relevan dalam menjawab tantangan global. Menteri Pertanian Suswono dalam sambutannya pada acara Seminar dan Lokakarya Nasional Inovasi Sumber Daya Lahan, yang dibacakan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Deptan Gatot Irianto, Selasa (24/11) di Bogor, Jawa Barat, menyatakan, visi pembangunan pertanian Deptan 2010-2014 akan bertumpu pada pertanian industrial.
Gatot menyatakan, dengan pertanian industrial, tidak berarti petani kecil dipinggirkan. Namun, bagaimana membangun pertanian industrial dengan melibatkan industri pertanian skala kecil dan menengah.
”Pertanian industrial jangan selalu diartikan industri skala besar, multinasional saja. Tetapi, juga industri skala rumah menengah dan kecil,” katanya.
Untuk mewujudkan pertanian industrial, diperlukan dukungan inovasi teknologi dan optimalisasi sumber daya lahan. Apalagi dengan menguatnya isu pemanasan global dan perubahan iklim, ancaman terhadap sumber daya lahan dan air semakin meningkat.
Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian Irsal Las mengungkapkan, para penelitinya telah menghasilkan delapan pupuk dan formula pupuk dalam dua tahun terakhir.
Komisaris Utama Bank Rakyat Indonesia Bunasor Sanim mengatakan, sektor pertanian merupakan sektor usaha strategis, tetapi rentan antara lain dengan pengaruh perubahan iklim dan turbulensi ekonomi.
Salah satu upaya mengurangi dampak perubahan itu adalah dengan pengembangan asuransi pertanian. Asuransi pertanian untuk bencana musim hujan ditemukan tahun 1979 di Jerman.
Di Amerika Serikat, pada tahun 1980 produk pertanian pertama yang diasuransikan adalah tembakau.