
Rabu, 25 November 2009 | 04:30 WIB
”Kami telah melakukan roadshow di beberapa daerah di Indonesia, di antaranya di Medan, Palembang, Semarang, Surabaya, dan Makassar. Terlihat jelas dalam roadshow tersebut bahwa tanggapan dan juga animo investor lokal terhadap IPO BTN sangat besar, bisa diindikasikan dengan banyaknya respons dari investor yang terekam pada sesi tanya jawab dan informasi minat yang diterima oleh cabang kami di daerah tersebut,” kata Direktur Utama BTN Iqbal Latanro, Selasa (24/11) di Hongkong.
Menurut Iqbal, animo yang sama juga tampak dari roadshow di Singapura. Hari ini manajemen BTN bertemu sejumlah investor besar di Hongkong dan dilanjutkan dengan roadshow ke sejumlah pusat keuangan di Eropa, seperti London, Amsterdam, dan Frankfurt.
Tingginya minat investor didorong oleh keunggulan kompetitif BTN. BTN diketahui merupakan pemimpin pasar di segmen perumahan sejak 1974. Portofolio kredit perumahan BTN terdiri dari 58 persen KPR subsidi dan 42 persen KPR biasa.
Di pasar kredit perumahan bersubsidi pemerintah, BTN mendominasi 99 persen pangsa pasar dengan kredit mencapai
Menurut Iqbal, BTN memiliki pangsa pasar dominan di KPR subsidi karena telah berpengalaman 33 tahun sejak 1976. Selain itu, BTN juga memiliki kelebihan dalam economies of scale di mana KPR subsidi merupakan kredit berskala kecil. ”Kami juga memiliki infrastruktur KPR yang lengkap sehingga efisien untuk menjalankan bisnis secara komersial,” kata Iqbal.
Penyaluran KPR BTN tergolong tinggi. Tahun 2008, kredit perumahan BTN mencapai
Kepemimpinan di pangsa pasar kredit perumahan mendorong BTN meluncurkan Kontrak Investasi Kolektif-Efek Beragun Aset (KIK-EBA) pertama di Indonesia pada Februari 2009. Sepanjang tahun ini, BTN telah menerbitkan Sekuritas Efek Beragun Aset (EBA) dengan total nominal Rp 500 miliar.
Potensi pasar perumahan yang bisa digarap BTN masih sangat besar. Kementerian Negara Perumahan Rakyat memperkirakan permintaan kebutuhan rumah tinggal baru 800.000 unit per tahun, tetapi pasokan rumah hanya 400.000 unit per tahun. Akibat kesenjangan tersebut, akumulasi total kebutuhan rumah saat ini 8,6 juta unit.
Keunggulan kompetitif lainnya adalah luasnya jaringan BTN yang mencakup 244 cabang konvensional, 20 cabang syariah, dan 1.957 outlet bekerja sama dengan kantor pos di seluruh Indonesia. (Fajar Marta dari HongKong)