
Rabu, 25 November 2009 | 04:31 WIB
Dalam dunia pemasaran berlaku pepatah yang menyebutkan bahwa pembeli atau konsumen adalah raja. Namun, adakalanya tidak semua produsen, termasuk perusahaan jasa sekalipun, memahami bagaimana cara memberlakukan pembeli dengan baik sehingga mereka menjadi konsumen yang loyal.
Saat ini produk serta jasa yang ditawarkan oleh produsen tidak hanya ditentukan oleh mutu yang baik dan harga yang bersaing, tetapi juga ditentukan oleh kekuatan konsumen yang membentuk komunitas secara independen.
Terkait dengan itu, pada 21-22 November 2009, sebanyak 150 komunitas kumpul bareng dalam ajang The Indonesian Consumunity Expo (ICE). Kegiatan ini sudah dilakukan sejak 2007 di Parkir Timur Senayan, Jakarta.
Dalam ICE tersebut, Prasetiya Mulya Business School (PMBS) berperan mendampingi serta memfasilitasi komunitas dalam menggagas, mewujudkan, serta melaksanakan aktivitas bisnis mereka. Untuk memfasilitasi ICE, sejumlah media
Salah satu produsen yang diuntungkan dengan berkembangnya komunitas antara lain perusahaan yang memproduksi sepeda Polygon.
Promotion Manager Polygon Peter Mulyadi mengakui keberadaan komunitas yang marak di sejumlah kota akhir-akhir ini telah mendongkrak penjualan berbagai merek sepeda.
Saat ini kapasitas produksi pabrik sepeda Polygon sebanyak 1.800 unit per hari. ”Sebesar 70 persen dari produksi sepeda Polygon diekspor ke 53 negara, sisanya dipasarkan di dalam negeri,” ujar Peter Mulyadi.
Mengingat Polygon juga termasuk dalam bisnis gaya hidup, kata Peter, perusahaan ini tidak segan-segan untuk mendukung kegiatan sepeda di Tanah Air. Bahkan, hingga sekarang Polygon sudah menjalin kerja sama dengan 100 komunitas di seluruh Tanah Air.
Kerja sama dengan komunitas, ujar Peter, sudah menjadi model bisnis Polygon. Tidak heran jika pertumbuhan penjualan sepeda Polygon bisa mencapai 20 persen per tahun.
Kaitan antara membaiknya kinerja (finansial) produsen dan eksistensi komunitas konsumen juga dibuktikan oleh hasil penelitian ICE yang dilakukan PMBS tahun 2007.
”Katalis komunitas menyumbang secara signifikan terhadap pembentukan komunitas konsumen dan komunitas konsumen berhubungan secara signifikan terhadap indikator arus kas positif produsen,” kata Prof Dr Agus W Soehadi, dosen di PMBS.
Dr Eka Ardianto, dosen PMBS, menambahkan, hasil penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa komunitas konsumen memberikan kontribusi positif terhadap produsen.
Hubungan produsen dan komunitas konsumen bersifat sebagai mitra dan saling memanfaatkan satu sama lain. Misalnya, KFC Indonesia menggunakan komunitas
Beberapa perusahaan yang memanfaatkan komunitas antara lain Nokia dengan komunitas communicator, Polygon dengan komunitas Bike to Work (B2W), Blackberry dengan komunitas Id-Blackberry, Bogasari dengan komunitas usaha kecil menengah berbasis tepung, dan Sidomuncul dengan komunitas pedagang jamu.
Ketua Independent Bikers Club (IBC) Edo Rusia mengatakan, belakangan ini memang ada komunitas sepeda motor yang berbasis merek.
”Namun, mayoritas komunitas lahir karena butuh teman untuk
Saat ini ada tren penggabungan komunitas pengendara motor menjadi satu wadah. Namun, kata Edo, juga banyak komunitas yang lahir berdasarkan kesamaan kebutuhan atau hobi.
Pada masa datang, keberadaan komunitas sangat boleh jadi bisa berperan sebagai kelompok penekan untuk menyampaikan aspirasi dan berbagai kepentingan lain mereka terhadap produsen, masyarakat, maupun pemerintah sebagai pengambil kebijakan.