Rabu, 10 Februari 2010
Memantik Tradisi Keilmuan Kudus

Rabu, 25 November 2009 | 11:07 WIB

Oleh M Abdul Rohim

Ilmu merupakan kunci dari keberhasilan pembangunan di segala aspek kehidupan. Ilmu tidak pernah stagnan, ia berkembang seiring embusan napas manusia. Kudus merupakan salah satu daerah di Jawa Tengah yang menjadi sentra keilmuan pada masa perwalian. Karena dari ke sembilan wali di Jawa yang mendapat laqob (sebutan) waliyyul ilmi hanya Sunan Kudus. Predikat ini menjadi representasi keilmuan di Kudus.

Berawal ketika Syeh Ja'far Shadiq datang ke Kudus dan membentuk Kudus Darussalam mengindikasikan bahwa Kudus memiliki budaya keilmuan yang tinggi. Kudus Darussalam merupakan potret masyarakat madani di Jawa. Kanjeng Sunan Kudus yang bergelar waliyyul ilmi menjadi tolok ukur keilmuan di Kudus.

Sayangnya, tradisi keilmuan ini tidak diwarisi oleh generasi sekarang. Semangat literasi tak jua mengasa di atmosfer Kudus. Padahal, jika mengingat kontribusi perjuangan Sunan Kudus, sudah sepantasnya Kudus menjadi rujukan keilmuan di Jawa Tengah khususnya. Bahkan, tidak berlebihan nantinya Kudus bisa menjadi kiblat keilmuan di Indonesia.

Sebagai penerus perjuangan Sunan Kudus seharusnya semangat Sunan Kudus menjadi titik awal upaya melestarikan budaya literasi sebagai wujud tabarrukan (mencari manfaat) dan tawaddhu' (pengabdian) terhadap mahaguru. Seiring berlalunya waktu, tradisi keilmuan semakin tergerus oleh arus perekonomian di Kudus. Barangkali ini dampak dari intensitas energi yang dikerahkan untuk membangun daerah dalam sektor perekonomian lebih dominan ketimbang sektor keilmuan.

Kuatnya tradisi keilmuan di Kudus yang diajarkan oleh Kanjeng Sunan ditandai dengan akulturasi budaya di sekitar menara. Dari struktur bangunan menara Kudus menandakan bahwa Sunan Kudus sangat respect terhadap budaya lain. Menara Kudus merupakan akulturasi bangunan dari budaya China, Hindu, Buddha, dan Islam. Tempat wudu samping makam Sunan Kudus yang masih berbentuk arca tapi digunakan untuk berwudu merupakan simbol bahwa Sunan Kudus sangat respect terhadap warisan budaya.

Di samping itu, sampai saat ini masih bisa ditemukan kelenteng yang tetap eksis di dekat menara. Padahal, menara merupakan simbol kejayaan Islam di Kudus. Hal ini mengindikasikan Sunan Kudus sangat toleran dengan pemeluk agama lain. Sunan Kudus mengajarkan bahwa menyebarkan agama tidak boleh dengan kekerasan. Hal inilah yang belum sepenuhnya dipahami oleh semua lapisan masyarakat, terutama para penyebar agama, sehingga yang timbul adalah kekerasan, pemaksaan terhadap ajaran. Sikap tasamuh (toleran) harus senantiasa dijunjung tinggi dalam interaksi sosial.

Tradisi keilmuan mempunyai otoritas budaya yang tak dapat dimungkiri karena untuk membangun sebuah peradaban diperlukan keilmuan yang memadai. Spanyol pernah menjadi rujukan ilmuwan karena memiliki tradisi literasi yang kuat. Jepang cepat berkembang setelah diluluhlantahkan oleh sekutu pada masa penjajahan juga karena perhatiannya terhadap tradisi keilmuan.

Peran pemerintah

Bicara tentang keilmuan harus didasarkan pada hal-hal yang berorientasi keilmuan. Misalnya, perpustakaan, produk penulisan, karya ilmiah, dan lain-lain. Untuk membangun itu semua butuh perhatian pemerintah. Sentuhan pemerintah bisa memantik tradisi keilmuan di Kudus.

Melihat sejarah perjuangan Sunan Kudus sudah selayaknya kebijakan-kebijakan pemerintah pro dengan tradisi keilmuan yang telah diajarkan oleh Sunan Kudus. Akan tetapi, selama ini kebijakan-kebijakan yang ada belum menunjukkan bahwa pemerintah (Pemkab) Kudus pro dengan keilmuan. Kebijakan pemerintah mesti sejalan dengan akar sejarah. Akan tetapi, hal tersebut sama sekali belum ter-cover dalam kebijakan-kebijakan yang ada. Warisan Sunan Kudus belum menjadi rujukan untuk kebijakan pemkab.

Pemkab mempunyai peran yang sangat signifikan dalam peningkatan tradisi keilmuan di Kudus. Untuk membangun daerah diperlukan para pakar yang berkompeten di bidangnya. Untuk memenuhi itu semua, pemkab semestinya berani mengirimkan orang untuk sekolah di bidang kompetensi yang dibutuhkan oleh pemerintah. Investasi yang paling menguntungkan adalah investasi sumber daya manusia (SDM). Dengan meningkatkan mutu SDM, Kudus bisa membangun daerahnya dengan lebih apik di masa depan. SDM merupakan investasi jangka panjang. Tidak hanya pembangunan di bidang ekonomi belaka, tetapi pembangunan dalam rangka menunjang keilmuan juga harus diperhatikan. Antara perekonomian dan keilmuan mestinya bisa seimbang agar tidak terjadi ketimpangan kebijakan dan ketimpangan pembangunan. Tidak hanya memikirkan nasib Kudus sekarang, tetapi masa depannya juga mesti dipikirkan.

Selain itu, pemerintah juga mempunyai peran penting untuk merangsang minat baca di Kudus. Berbagai tempat hiburan yang berbasis keilmuan bisa menjadi salah satu langkah strategis untuk memantik minat baca masyarakat Kudus. Tempat bermain tidak hanya sebagai tempat hiburan tetapi harus diisi dengan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada keilmuan. Unsur-unsur edukatif harus ditambahkan. karena pembelajaran yang menyenangkan akan mudah diserap daripada pembelajaran formal.

Di samping itu, pemkab juga bisa memelopori tradisi literer di Kudus. Lomba-lomba penelitian yang berbasis budaya lokal bisa menjadi pemantik para intelektual Kudus. Sebagai representasi keilmuan, Kudus mestinya memiliki tradisi literasi yang kuat. Penghargaan untuk para penulis juga akan memicu produktivitas keilmuan di Kudus.

Untuk melestarikan keilmuan di Kudus tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah belaka, tetapi masyarakat juga memiliki peran yang sama urgennya. Semua pihak harus saling mendukung jika ingin Kudus menjadi kota yang multi akan identitas, multi budaya, dan menjadi rujukan keilmuan di Jawa. M ABDUL ROHIM Peneliti di Paradigma Institute Kudus, Jawa Tengah Ilustrasi Barma

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: