
Rabu, 25 November 2009 | 11:12 WIB
Warsono (55) menatap tanah perbukitan setinggi 10 meter di depan rumahnya yang tampak merekah dengan garis retakan yang memanjang dari atas hingga ke bawah. Pancaran matanya memperlihatkan kekhawatiran dan waswas.
Warsono mengaku sulit tidur sejak longsor menimpa desa tempatnya tinggal, Desa Giyombong, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, pada Jumat (20/11) sore. "Saya takut rumah saya menjadi giliran berikutnya yang akan tertimpa longsor," ujar Warsono.
Setelah bencana longsor, Warsono mengungsi ke rumah kerabatnya. Namun, Warsono masih kerap kali menengok rumahnya.
Kecemasan serupa menghinggapi Kisud Suryadi (27). Kisud masih trauma karena Jumat sore ia sempat melihat tanah perbukitan longsor, bergulung-gulung ke bawah membawa berbagai tanaman di atasnya. Kejadian berlangsung sangat cepat. "Kalau mengingat itu, saya takut tidur malam hari. Saat terlelap, tentunya kami sekeluarga tidak akan mampu bereaksi dengan cepat untuk menyelamatkan diri," ujar Kisud.
Seperti Warsono, Kisud bersama anak dan istrinya sudah mengungsi ke rumah tetangga yang berada di belakang rumahnya. Karena masih takut dan khawatir, pada Sabtu (21/11), Kisud justru tidak tidur dan berjaga-jaga di depan rumahnya.
Kisud dan Warsono adalah dua di antara 35 kepala keluarga di Desa Giyombong yang rumahnya terancam terkena longsor. Atas instruksi Pemerintah Desa Giyombong dan Kecamatan Bruno, untuk sementara waktu mereka mengungsi ke rumah tetangga atau kerabat yang lebih aman.
Bencana longsor di Desa Giyombong didahului hujan lebat sejak pukul 13.00 hingga malam hari. Sekitar pukul 16.00, barulah longsor terjadi. Karena terjadi pada sore hari, warga dapat dengan cepat menyelamatkan diri.
Data Pemerintah Desa Giyombong, kerugian mencapai Rp 420 juta. Kerugian itu meliputi delapan rumah roboh, enam rumah rusak ringan, dan 35 rumah terancam terkena longsor. Ini masih ditambah lagi dengan hilang dan rusaknya material bangunan dalam proyek perbaikan jalan yang tengah berjalan dengan dana dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri sebesar Rp 31,9 juta.
Kekhawatiran lama
Kepala Desa Giyombong Yogi Santoso mengatakan, longsor pernah terjadi pada 2005, tetapi hanya menimpa lima rumah warga. Bersamaan dengan bencana tersebut, retakan-retakan tanah sudah terlihat di sepanjang perbukitan di lokasi bencana sekarang. Seolah diperingatkan adanya ancaman bencana susulan, seketika itu juga Pemerintah Desa Giyombong mengajukan permintaan merelokasi warga. Namun, setelah empat tahun berlalu, permohonan ini tidak kunjung dijawab. "Sebelum mendapatkan respons apa-apa dari Pemerintah Kabupaten Purworejo, kekhawatiran kami menjadi kenyataan, dan longsor kembali menimpa desa kami," ujar Yogi.
Dengan kejadian ini, pihaknya akan bersikeras kembali mengajukan permintaan relokasi. Jika sampai terjadi bencana, kondisi jalan desa yang sempit dan berliku-liku membuat bantuan sulit menembus ke lokasi.
Yogi yakin, bencana longsor masih menjadi bahaya yang mengintip dan rawan terjadi sewaktu-waktu. Retakan tanah yang sudah terlihat sejak tahun 2005 sering kali tidak muncul pada saat musim kemarau, namun kembali tampak pada musim hujan.
Minggu (22/11), Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah menurunkan Tim Kaji Teknis Longsor. Mereka meneliti penyebab longsor, sifat tanah, serta potensi terjadinya longsor susulan. "Dari hasil kajian nanti, barulah akan diperoleh kesimpulan apakah warga di Desa Giyombong ini perlu diungsikan atau direlokasi dari tempat tinggalnya sekarang," ujar Ketua Tim Kaji Teknis Longsor Budi Susetyo. (Regina Rukmorini)