
Kamis, 26 November 2009 | 03:24 WIB
Menanggung beban untuk meringankan hidup. Inilah paradoks etos kerja kuli-kuli angkut di mana pun dan kapan pun. Dan di manakah keadilan hidup berlayar ketika di Sungai Musi paradoks itu hanya menghanyutkan ke muara yang tak pernah berubah, samudra kemiskinan.
Di tepian Sungai Musi, Kota Palembang, matahari memberikan teriknya. Debu beterbangan dan bau limbah karet menyengat.
Siang itu, Angkud (35) dan enam rekannya sesama kuli siap bekerja. Kebetulan sebuah kapal tongkang yang mengangkut sekitar 50 meter kubik pasir bangunan baru saja menepi, mendekati bantaran Sungai Musi.
Pria lulusan sekolah dasar itu lalu meletakkan bilah kayu berukuran lebar 20 sentimeter untuk menghubungkan bantaran sungai dengan tongkang. Kayu itu berfungsi sebagai titian saat membawa pasir dari tongkang ke bantaran sungai.
Waktu persis tengah hari. Itulah saat bagi para pegawai negeri sipil memperpanjang istirahatnya dan saat bagi orang-orang berdasi dan bersepatu menikmati pindang tulang atau pindang patin di kantin kantor mereka yang sejuk.
Sementara itu, bagi Angkud, tengah hari itu adalah panggilan untuk mulai nguli. Dan apa yang bisa diharapkan dari matahari yang sedang mencapai kulminasinya selain terik yang membuat setiap mata mengernyit.
”Ya, mau bagaimana lagi, pekerjaan kuli memang harus panas-panas,” kata Angkud.
Maka, mulailah ayah dua anak itu mengangkut pasir dari tongkang ke bantaran sungai, sedikit demi sedikit. Dengan pikulan terbuat dari dua keranjang rotan, Angkud hilir-mudik menanggung beban.
Pertama-tama pasir diserok ke dalam keranjang sampai penuh. Kemudian keranjang penuh pasir itu diangkat. Tentu saja, untuk sampai tujuan, Angkud harus meniti kayu langkah demi langkah. Betapa leganya dia saat pasir ditumpahkan di tujuan. Setidaknya dua hingga tiga kali tarikan napas bisa memberi kelegaan dan memperpanjang daya tahan tubuhnya.
Untuk memindahkan semua pasir dari tongkang ke bantaran sungai, Angkud dan rombongannya harus bekerja sampai malam hari. Toh lampu-lampu telah disiapkan.
Kerja buruh angkut pasir modelnya borongan. Untuk memindahkan 50 meter kubik pasir dari tongkang ke bantaran sungai, upahnya Rp 700.000. Jika rombongan Angkud berjumlah tujuh orang, masing-masing akan mendapatkan Rp 100.000.
Akan tetapi, tidak semua uang tersebut dapat dibawa pulang ke rumah. Pasalnya, untuk ongkos makan, minum, dan rokok saja, setiap kuli harus mengeluarkan Rp 30.000 per hari. Ingat, ongkos makan di Kota Palembang tergolong mahal.
”Hari ini mungkin saya bisa membawa uang ke rumah 70.000. Biasanya, rata-rata saya hanya membawa Rp 30.000 sampai Rp 50.000 setiap harinya,” kata Kamsir (50), kuli lainnya.
Dengan penghasilan sebesar itu, baik Angkud maupun Kamsir mengaku tidak bisa menabung.
Angkud tinggal di rumah kontrakan bersama istri dan kedua anaknya di Kelurahan Karangjati, Kecamatan Gandus, Kota Palembang. Biaya kontraknya Rp 2,5 juta per tahun.
Dua tahun lagi, anak sulungnya akan sekolah. Jika kini ia rata-rata mengangkut pasir sekitar 12 jam per hari, dua tahun lagi mungkin ia harus menambah durasinya.
Di sepanjang Sungai Musi, Kota Palembang, diperkirakan ada sekitar 600 sampai 1.000 kuli pengangkut pasir bangunan. Mayoritas berasal dari Serang, Jawa Barat.
Angkud lahir di Palembang. Akan tetapi, orangtuanya adalah perantauan asal Jawa Barat. Ayahnya bekerja sebagai kuli angkut. Artinya, Angkud adalah generasi kedua dari kelompok perantauan asal Jawa Barat yang bekerja menjadi kuli di Kota Palembang. Kabarnya, generasi ketiga pun sudah mulai bermunculan.
Sementara itu, Sungai Musi menjelang petang. Sinar lampu kota mulai bersinar. Dan wang-