
Kamis, 26 November 2009 | 03:52 WIB
Wartawan Kompas Subhan SD dari Mekkah semalam melaporkan, pergerakan jemaah haji menuju Arafah terganggu banjir. Kemacetan lalu lintas menuju berbagai arah, termasuk ke Mina, pun tidak terelakkan.
”Terjadi banjir bandang setinggi dada orang dewasa. Akses jalan Jeddah-Mekkah terputus. Dilaporkan banyak mobil hanyut terbawa banjir,” tuturnya.
Kepala Daerah Kerja Jeddah Subhan Cholid yang menuju Mekkah terpaksa harus mencari lokasi yang aman, yaitu di atas jembatan.
Zaenal Abidin dari Corporate Facility Management Kompas- Gramedia, Jakarta, yang tengah menunaikan ibadah haji, juga melaporkan keadaan yang
Pengangkutan jemaah haji dari Mekkah menuju Arafah terganggu. ”Jemaah haji Indonesia kloter (kelompok terbang) 36 yang akan berangkat ke Arafah pukul 13.00 tidak jadi. Sebab, ada info dari petugas dan sopir bus bahwa kendaraan tidak bisa masuk Arafah karena banjir,” tutur Zaenal.
Rabu malam, jemaah haji yang masih tertahan di Mekkah kembali senang. Hujan mulai reda. ”Mobil-mobil jemputan jemaah haji menuju Arafah mulai berdatangan. Mudah-mudahan banjir sudah surut,” ujar Zaenal.
Arafah, berada sekitar 21 kilometer dari Mekkah, Kamis ini dipenuhi jemaah haji yang melaksanakan wukuf atau berdiam selama semalam pada 9 Zulhijah 1430 Hijriah.
Untuk antisipasi gangguan pada puncak ibadah haji, Pemerintah Arab Saudi menyiagakan sedikitnya 14 rumah sakit dan 19 pusat kesehatan, baik di Mekkah maupun di kawasan Arafah dan Mina. Selain menyiapkan peralatan yang canggih, disiagakan pula 17.600 tenaga medis.
Secara terpisah, Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Departemen Agama Slamet Riyanto mengatakan, jemaah haji Indonesia akan menempati 70 maktab atau pemondokan tenda di Arafah dan Mina. Satu maktab bisa menampung 2.500 hingga 3.000 orang.