Senin, 22 Maret 2010
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Pantulan pebalap sepeda tertangkap ketika memasuki rute pegunungan pada etape keempat Speedy Tour d Indonesia antara Purwokerto dan Semarang, Rabu (25/11).
Lalu Lintas Semrawut
Iran Borong Semua Penghargaan

Kamis, 26 November 2009 | 04:30 WIB

Semarang, Kompas - Semrawutnya lalu lintas di lima kilometer terakhir mewarnai finis etape keempat Speedy Tour d’Indonesia 2009 di Semarang, Rabu (25/11). Peserta dan konvoi mobil tim harus berebut jalan dengan pengguna lalu lintas yang kurang memberi kesempatan kepada peserta.

Kondisi ini diperparah dengan terpecahnya peserta dalam beberapa kelompok sehingga menyulitkan petugas mengawal para peserta. Etape keempat yang dimulai dari Purwokerto adalah tahapan terpanjang pada lomba tahun ini, yaitu 213,8 kilometer. Pada tahapan ini juga tersuguhkan tanjakan kategori tersulit, 34 km selepas start, yang membuat peserta tercerai-berai.

Selepas tanjakan itu, enam pebalap teratas di klasemen, terdiri atas lima pebalap tim Tabriz Petrochemical dan raja tanjakan tahun lalu, Amir Zargari (Azad University/Iran), melepaskan diri dari rombongan. Mereka unggul hingga 10 menit di depan rombongan pebalap lain, yang setelah melewati belasan upaya break terpisah menjadi tiga kelompok.

Dua dari enam pebalap terdepan, pemakai kaus kuning Mehdi Sohrabi (Iran) dan juara bertahan Ghader Mizbani, melepaskan diri selepas Kendal dan tak terkejar hingga finis. Empat pebalap lainnya harus bersusah payah melewati padatnya lalu lintas karena marshall yang mengawal sibuk menghentikan motor dan mobil yang mencoba masuk jalur lomba.

Hal serupa terjadi pada rombongan pebalap di belakangnya karena polisi telanjur membuka jalan saat jeda antarkelompok pebalap.

”Etape ini berat karena jaraknya paling panjang, cuacanya panas, dan 5 kilometer terakhir lalu lintasnya semrawut,” ujar pebalap Polygon Sweet Nice, Hari Fitrianto, yang finis nomor sembilan. Hari menjadi satu-satunya pebalap tuan rumah di deretan 10 besar dan merebut kaus merah putih sebagai pebalap nasional terbaik dari Didit Purwanto (DI Yogyakarta).

Penghargaan lainnya diborong habis para pebalap Iran. Sohrabi menjadi yang tercepat di dua titik intermediate sprint sehingga kini memuncaki klasifikasi sprinter dengan 13 poin. Pebalap berusia 28 tahun ini juga masih memimpin klasifikasi raja tanjakan dengan finis tiga besar pada dua pendakian di etape keempat, di belakang Mizbani dan Zargari.

Karena Sohrabi masih memuncaki klasifikasi pebalap terbaik dan berhak atas kaus kuning, kaus hijau sebagai lambang sprinter terbaik akan dikenakan oleh Mizbani yang berada di urutan kedua. Adapun kaus polka dot sebagai raja tanjakan dipakai oleh Zargari pada etape kelima dari Semarang menuju Yogyakarta, hari ini. (ivv/was)

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: