Rabu, 10 Februari 2010
Produksi Minyak Bumi Menurun
Berpengaruh terhadap Pendapatan Daerah

Sabtu, 28 November 2009 | 04:23 WIB

Palembang, Kompas - Volume produksi minyak bumi di wilayah Sumatera Selatan mulai menurun dalam dekade terakhir. Dibandingkan tahun 2001, produksi tahun 2008 turun sebanyak 21,12 juta barrel atau 43,06 persen. Sementara tren penurunan setiap tahunnya rata-rata 7,42 persen.

”Setelah mencapai puncaknya, produksi minyak bumi pada suatu sumur eksploitasi selalu menurun. Ini adalah proses alami,” kata Kepala Bidang Minyak dan Gas Dinas Pertambangan dan Energi (Dispertamben) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Dany Fachrial, Jumat (27/11).

Di wilayah Provinsi Sumsel, terdapat delapan daerah penghasil minyak dan gas bumi. Daerah tersebut meliputi Kabupaten Lahat, Muara Enim, Musi Banyuasin, Banyuasin, Musi Rawas, Ogan Komering Ilir, Ogan Komering Ulu, serta Kota Prabumulih.

Berdasarkan data Dispertamben Provinsi Sumsel, sejak 2001 produksi minyak bumi Sumsel terus mengalami penurunan. Pada 2001, produksinya adalah 49,06 juta barrel. Sementara pada 2008 produksinya tinggal 27,93 juta barrel. Artinya, selama periode tersebut telah terjadi penurunan produksi sebanyak 21,12 juta barrel atau 43,06 persen.

Penurunan volume produksi terbesar terjadi pada 2003. Dibandingkan dengan 2002, produksinya anjlok sebanyak 7,76 juta barrel atau 17,08 persen.

Kepala Bidang Pendapatan Lain-lain Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumsel Djamrul Amin menyatakan, penurunan produksi minyak bumi berdampak langsung pada penerimaan pendapatan daerah. Pasalnya, dari penjualan produksi atau lifting minyak bumi, daerah mendapat dana bagi hasil (DBH).

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah menyebutkan, untuk penambangan yang berlokasi di wilayah kabupaten dan kota, pemerintah provinsi mendapat DBH sebesar 3 persen dari lifting minyak bumi dan 6 persen dari lifting gas bumi. Provinsi juga masih menerima tambahan DBH untuk masing-masing komoditas sebesar 0,1 persen.

Mengacu data Dispertamben, DBH lifting minyak bumi pada 2007 senilai Rp 172,3 miliar. Pada 2008, nilainya turun menjadi 160,04 miliar. Jika melihat realisasi sampai dengan triwulan kedua tahun ini, besar kemungkinan nilai DBH kian turun.

Dalam anggaran pendapatan daerah Sumsel, DBH atas lifting minyak bumi berada di peringkat keempat penyumbang terbesar. Pada tahun 2007, kontribusinya 6,72 persen.

Tren sebaliknya justru terjadi pada produksi gas bumi. Pada tahun 2008, produksinya mencapai 434 juta metric million british thermal unit (MMBTU). DBH yang diterima Provinsi Sumsel sebesar 223,53 miliar. Pada 2001, produksinya baru 210 juta MMBTU. DBH-nya senilai Rp 17,6 miliar. (LAS)

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: