
Minggu, 29 November 2009 | 02:55 WIB
Kuta, Kompas -
Hal itu mengemuka dalam dialog antariman ”Peran Agama dalam Mewujudkan Perdamaian di Tengah Perbedaan” di Kuta, Bali, Sabtu (28/11). Dialog yang difasilitasi Komisi Hak Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar itu dihadiri antara lain Presiden Dewan Kepausan Dialog Antaragama Vatikan Kardinal Jean-Louis Tauran, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Bali IB Gde Wiana, dan para pemuka agama di Pulau Bali.
Kardinal Tauran mengatakan, menjadi tanggung jawab bersama, khususnya pemuka agama, supaya hasil dialog antariman sampai di tataran akar rumput demi terciptanya atau terjaganya perdamaian sejati. Perdamaian sejati, menurut dia, berdasarkan tiga hal, yakni toleransi, saling menghormati, dan kerja sama.
”Dunia kita, masa depan kita adalah sesuatu yang kita pilih dan bangun bersama. Kehadiran kita sebagai pemimpin ataupun cendekiawan agama yang menggambarkan komunitas kita masing-masing sesungguhnya menjadi bukti keinginan dan komitmen terhadap hubungan yang harmonis dan konstruktif antarpemeluk agama. Mari kita bekerja untuk perdamaian, membangun perdamaian, memberi sekaligus menerima perdamaian itu,” kata Kardinal Tauran.
Kardinal Tauran menyatakan, pemeluk agama percaya pada harapan dan bukan semata-mata pada nasib. Dengan hati dan kepandaian yang dianugerahkan pada manusia, mereka seharusnya dapat meluruskan sejumlah catatan sejarah kelam dalam hubungan antariman menuju yang dicita-citakan Yang Maha Kuasa, yakni dihargainya rasa kemanusiaan yang sejati.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Bali IB Gde Wiana menyatakan, nilai dan hasil dialog antariman menjadi penuh ketika terejawantah dalam aksi nyata di kehidupan sehari-hari umat beragama.
Perdamaian dan toleransi yang tinggi, bagi Bali, misalnya, menjadi prasyarat berjalannya roda perekonomian yang berbasis pada pariwisata. ”Perdamaian dan kondisi yang tenang tanpa permusuhan menjadikan wisatawan juga senang dan nyaman berwisata ke pulau ini. Pada akhirnya, seluruh masyarakat memperoleh manfaat langsung dari kondisi ini,” kata Wiana.
Menurut Wiana, untuk menciptakan perdamaian sekaligus menjaga proses dialog antariman tetap berlangsung dan terejawantah dalam kehidupan sehari-hari, dukungan dari pemerintah (daerah maupun pusat) menjadi penting.
Pemerintah serta komunitas-komunitas agama, katanya, dapat berperan aktif sebagai fasilitator dalam mempraktikkan perdamaian itu.