Rabu, 10 Februari 2010
KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Kelompok musik jazz Clorophyl dari Jakarta tampil menghibur pedagang di Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (28/11). Meski sebagian besar pedagang di pasar ini lebih akrab dengan musik campur sari, mereka tetap antusias melihat penampilan Clorophyl.
MUSIK
Mbok Tuminem Pun Mendengarkan Jazz

Minggu, 29 November 2009 | 02:57 WIB

Frans Sartono dan Heru Sri Kumoro

Perhelatan jazz akan ramai digelar di Kota Solo, Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta pada awal Desember. Sebagai sosialisasi, Sabtu (28/11), jazz dimainkan di tengah Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah.

Pemandangan tidak biasa terlihat di Pasar Gede Harjonagoro, Solo, Jawa Tengah, Sabtu siang. Saat itu kelompok jazz Clorophyl dari Jakarta tampil di tengah simbok-simbok bakul di Pasar Gede. Mereka tampak antusias melihat band yang pentas di antara dagangan beras, pisang, tempe, cabai, dan lainnya. Di antara mereka ada Mbok Tuminem (54), penjual sate ayam yang bahkan belum pernah mendengar kata jazz.

Niku musik nopo to, kok dombreng-dombreng. Kulo mboten ngertos, (Itu musik apa,

kok ramai. Saya tidak me- ngerti namanya),” kata Tuminem dalam bahasa Jawa. Meski demikian, Tuminem merasa terhibur. Dia mengajak cucunya bergoyang mendengarkan Clorophyl.

Jazz di tengah pasar itu merupakan semacam sosialisasi dari perhelatan Solo City Jazz, semacam festival jazz kecil-kecilan yang rencananya akan digelar pada 4 dan 5 Desember di pasar malam Windu Jenar, Ngarsopuro, Solo. Ngarsopuro adalah wilayah yang berada persis di depan Pura Mangkunegaran.

Mengapa jazz harus datang ke pasar? ”Jazz itu harus marani (mendatangi) pendengar, bukan menunggu didatangi,” kata Wenny Purwanti dari C-Pro yang punya gawe

Solo City Jazz. Menurut pengarah pertunjukan Solo City Jazz, Gideon Momongan, hal itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa jazz adalah untuk rakyat, siapa pun mereka.

Dalam upaya membumikan jazz itu, selain Solo, Kota Bandung juga akan menggelar Bandung World Jazz Festival 2009 di Sabuga, 3-4 Desember. Perhelatan jazz juga akan digelar pada 15 Desember oleh Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dalam rangka dies natalis. UGM nanggap kelompok JavaJazz. Sebelumnya, hari Minggu ini, Jazz Goes to Campus digelar di Universitas Indonesia.

Hajatan di Bandung menampilkan musisi jazz seperti Riza Arsad atau Nita Arsten Quartet, dan lainnya. Solo City Jazz menghadirkan Clorophyl, Donny Suhendra, Bintang Indrianto, dan lainnya.

Yang menarik dari perhelatan jazz di Solo dan Bandung tersebut adalah sama-sama menghadirkan Wayan Sadra dengan Sono Seni Ansamble-nya. Bandung Jazz menyuguhkan Tiwi Sakuhachi dan Saung Angklung Udjo, serta Karinding Collaborative yang antara lain melibatkan instrumen kecapi.

Musik ”aneh-aneh”

”Saya terima saja diundang walau kami bukan kelompok jazz. Mereka mau bilang (musik) apa, ya terserah,” kata Sadra yang bermarkas di Solo.

Bagi Sadra yang lebih penting adalah kesempatan mengomunikasikan musik mereka dengan publik yang selama ini dianggap ”bodoh” untuk mendengarkan musik

kontemporer atau jazz dan lainnya. Justru dari tempat seperti pasar, festival, atau hotel berbintang di mana orang biasa dugem, Sadra belajar kearifan.

”Kami memadukan kreativitas individu dengan kearifan orang banyak. Bukan berarti kami menyerah kepada orang banyak. Mereka sering dianggap ’bodoh’,” kata Sadra, lulusan Konservatori Karawitan Denpasar dan pascasarjana di Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Solo,

”Dan, katanya, musik yang dianggap aneh-aneh itu hanya untuk orang ’pintar’. Padahal, mereka (masyarakat umum) dengan cerdas mendengarkan, tetapi industri justru bungkam akan realitas tersebut,” kata Sadra yang pernah mendapat penghargaan New Horizon Award dari International Society for Art and Science and Technology, Amerika Serikat.

Musik ”aneh-aneh” itulah yang akan meramaikan acara jazz di Bandung dan Solo. Menurut kurator musik Bandung World Jazz, Jaelani, yang disebut aneh-aneh itu merupakan bagian dari proses pencarian terus-menerus yang menjadi ciri wanci jazz. Bukankah jazz swing jauh berbeda dari bebop atau bossa nova, tetapi dilandasi semangat kebebasan untuk berubah?

”Ada kecenderungan baru dari musisi jazz untuk mencari alternatif harmoni. Mereka mencari identitas baru dengan keluar dari jazz mainstream,” kata Jaelani, lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, yang kini mengajar di Universitas Pasundan, Bandung. ”Di Bandung World Jazz kami mendorong seniman mencoba ranah harmoni yang lain supaya identitas jazz kita muncul,” ujarnya.

”Kalau kita tidak mengambil peluang luas yang diberikan jazz, kita akan selalu hanya menjadi pengikut jazz yang Amerika. Padahal, jazz kini sudah stateless, milik dunia,” kata Andar Manik, General Coordinator Bandung World Jazz Festival 2009.

Risikonya, upaya pembaruan akan selalu mendapat reaksi dari publik yang telanjur terlena pada zona nyaman, yaitu menyukai satu jenis musik tertentu. Publik, menurut Sadra, cukup cerdas, dan akan mampu menerima pembaruan itu. ”Malah yang neko-neko itu sebenarnya jauh lebih enak. Kita harus belajar menerima perubahan,” kata Sadra.

Mungkin orang perlu belajar dari Mbok Tuminem, bakul sate yang mau menerima jazz.

Share on Facebook
Nilai 4 A A A
Ada 4 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
dez @ Selasa, 1 Desember 2009 | 09:47 WIB
Daripada musik metal lebih baik musik jazz daripada blanja di pasar lebih baik musik jazz
gie subardah @ Minggu, 29 November 2009 | 19:42 WIB
ide hebat, semangat memajukan Indonesia ......
Jean @ Minggu, 29 November 2009 | 18:05 WIB
Keren abiz....salut buat para pemusik yang mau turun kebawah....
Nowo @ Minggu, 29 November 2009 | 09:47 WIB
Salut utk EO... Jazz memang tidak cuma utk kalangan atas.. What next...??

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: