
Minggu, 29 November 2009 | 02:57 WIB
Frans Sartono dan Heru Sri Kumoro
Perhelatan jazz akan ramai digelar di Kota Solo, Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta pada awal Desember. Sebagai sosialisasi, Sabtu (28/11), jazz dimainkan di tengah Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah.
”
kok ramai. Saya tidak me-
Jazz di tengah pasar itu merupakan semacam sosialisasi dari perhelatan Solo City Jazz, semacam festival jazz kecil-kecilan yang rencananya akan digelar pada 4 dan 5 Desember di pasar malam Windu Jenar, Ngarsopuro, Solo. Ngarsopuro adalah wilayah yang berada persis di depan Pura Mangkunegaran.
Mengapa jazz harus datang ke pasar? ”Jazz itu harus
Solo City Jazz. Menurut pengarah pertunjukan Solo City Jazz, Gideon Momongan, hal itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa jazz adalah untuk rakyat, siapa pun mereka.
Dalam upaya membumikan jazz itu, selain Solo, Kota Bandung juga akan menggelar Bandung World Jazz Festival 2009 di Sabuga, 3-4 Desember. Perhelatan jazz juga akan digelar pada 15 Desember oleh Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dalam rangka dies natalis. UGM
Hajatan di Bandung menampilkan musisi jazz seperti Riza Arsad atau Nita Arsten Quartet, dan lainnya. Solo City Jazz menghadirkan Clorophyl, Donny Suhendra, Bintang Indrianto, dan lainnya.
Yang menarik dari perhelatan jazz di Solo dan Bandung tersebut adalah sama-sama menghadirkan Wayan Sadra dengan Sono Seni Ansamble-nya. Bandung Jazz menyuguhkan Tiwi Sakuhachi dan Saung Angklung Udjo, serta Karinding Collaborative yang antara lain melibatkan instrumen kecapi.
”Saya terima saja diundang walau kami bukan kelompok
Bagi Sadra yang lebih penting adalah kesempatan mengomunikasikan musik mereka dengan publik yang selama ini dianggap ”bodoh” untuk mendengarkan musik
kontemporer atau jazz dan lainnya. Justru dari tempat seperti pasar, festival, atau hotel berbintang di mana orang biasa
”Kami memadukan kreativitas individu dengan kearifan orang banyak. Bukan berarti kami menyerah kepada orang banyak. Mereka sering dianggap ’bodoh’,” kata Sadra, lulusan Konservatori Karawitan Denpasar dan pascasarjana di Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Solo,
”Dan, katanya, musik yang dianggap aneh-aneh itu hanya untuk orang ’pintar’. Padahal, mereka (masyarakat umum) dengan cerdas mendengarkan, tetapi industri justru bungkam akan realitas tersebut,” kata Sadra yang pernah mendapat penghargaan New Horizon Award dari International Society for Art and Science and Technology, Amerika Serikat.
Musik ”aneh-aneh” itulah yang akan meramaikan acara
”Ada kecenderungan baru dari musisi jazz untuk mencari alternatif harmoni. Mereka mencari identitas baru dengan keluar dari jazz
”Kalau kita tidak mengambil peluang luas yang diberikan jazz, kita akan selalu hanya menjadi pengikut jazz yang Amerika. Padahal, jazz kini sudah
Risikonya, upaya pembaruan akan selalu mendapat reaksi dari publik yang telanjur terlena pada zona nyaman, yaitu menyukai satu jenis musik tertentu. Publik, menurut Sadra, cukup cerdas, dan akan mampu menerima pembaruan itu. ”Malah yang neko-neko itu sebenarnya jauh lebih enak. Kita harus belajar menerima perubahan,” kata Sadra.
Mungkin orang perlu belajar dari Mbok Tuminem, bakul sate yang mau menerima jazz.