Kamis, 18 Maret 2010
KOMPAS/ARBAIN RAMBEY
SOSIALITA
Wanita Mana Sih yang Tidak Suka Dipuji...

Minggu, 29 November 2009 | 04:10 WIB

Bre Redana dan Frans Sartono

Tubuhnya yang berproporsi ideal—tinggi 165, berat badan 47 kilogram, lingkar dada 32 (c)—dibalut busana hitam yang memperlihatkan satu bagian pundaknya. Alangkah beruntung orang yang usaha bisnisnya mempersonifikasi dalam diri sendiri: sang aku menjadi duta dari bidang yang kebetulan pula dia gemari.

Tak perlu sungkan untuk menyatakan kekaguman bahwa wanita ini, Fitria Yusuf (26), tampak sexy. Bukankah seperti dalam buku yang merupakan semacam panduan belanja, Little Pink Book: Jakarta Style & Shopping Guide (2009, yang ia tulis bersama Alexandra Dewi), ia kutip ungkapan dari Scarlett Johansson, ”One of the best things, for a woman to hear is that she is sexy” (Salah satu hal terbaik untuk didengar perempuan adalah pernyataan bahwa ia sexy).

Fifi—panggilan akrab Fitria—tertawa. ”Wanita mana sih yang tidak suka dipuji sexy, dengan konotasi yang baik tentunya...,” tukasnya. Ia sendiri mengaku tersanjung setiap kali dipuji oleh suaminya. ”Makanya, jadi cowok sering-sering memuji istri,” nasihatnya. Kata dia, wanita makin dipuji akan makin bersemangat untuk berdandan.

Benar juga kelihatannya. Fitria menjelaskan, busana hitam yang dikenakannya itu bermerek Blackhalo—satu merek dari Amerika. Di balik busana itu, seperti dijelaskannya sendiri, ia mengenakan bra yang sifatnya strapless. ”Underwear (pakaian dalam) merupakan fondasi berbusana yang baik,” Fitria menjelaskan.

Untuk mengetahui pernak-pernik kebutuhan wanita, Fitria adalah alamat yang tepat. Dia menjelaskan, baginya shopping atau berbelanja bukanlah hobi, melainkan gaya hidup. Ia melukiskan dirinya sendiri sebagai ”smart shopper” alias ”pembelanja yang cerdas”.

”Berbeda dengan shopaholic yang ketagihan berbelanja, saya menghindari membeli benda yang tidak sesuai dengan personal style atau bentuk tubuh hanya karena tergiur oleh promosi dan sale besar-besaran,” tulis Fitria dalam buku Little Pink Book. Dalam buku itu pula, wanita dari keluarga makmur ini menuturkan, ”Sejak kecil oleh orangtua di rumah, saya diajarkan untuk rajin menabung dan berhemat. Saya tidak diberikan kartu kredit hingga duduk di bangku kuliah, itu pun dengan kredit yang dibatasi oleh beliau.”

Balenciaga

Dengan latar itu, dia hendak menjelaskan, bagaimana ia harus memutar otak untuk mendapatkan barang yang diinginkannya, tanpa harus bergantung pada sang ibu, dalam arti menurut ibu benda itu bagus atau tidak. Kemudian dia membaca iklan di sebuah majalah wanita, mengenai butik yang menerima penjualan tas second hand bermerek. Fitria datang ke situ, membawa tas-tas bermerek yang sudah tidak lagi dipakai. Dari penjualan tas itu, dia bisa membeli tas bermerek terkenal, Balenciaga, edisi yang pada waktu itu belum banyak dipakai oleh kalangan atas Jakarta. ”Puas rasanya menenteng tas yang sedang hit dengan uang dari kantong sendiri,” tulisnya.

Kedekatan pada barang-barang bermerek itu pula yang membawa Fitria kemudian bekerja di majalah Dewi sebagai fashion market editor. Tugas fashion market editor adalah berburu barang-barang fashion untuk di-review. Bekerja di majalah itu dua tahun kini Fitria masih menjadi kontributor untuk urusan fashion di majalah Eve.

Dari pengalaman berkecimpung di media, Fitria merasakan susahnya mencari barang-barang tertentu. Dia melihat perlunya semacam direktori atau panduan bagi orang-orang yang ingin tahu. Itulah yang kemudian mendorongnya untuk menyusun buku berjudul Little Pink Book tadi. Dalam buku itu, orang akan menjumpai berbagai arahan untuk mendapatkan pernak-pernik fashion berikut tips khusus dari penyusun buku ini.

Sejarah

Di luar itu, Fitria juga memiliki semacam butik, yang ia maksudkan sebagai one stop shopping bagi kalangan wanita. Di butiknya ia menjual berbagai fashion wanita, dari pakaian dalam sampai pernak-pernik, katakanlah semacam cover untuk telepon seluler.

”Ini dari kristal,” kata Fitria sembari menunjukkan Blackberry-nya yang kelihatan menyala dengan cover yang, katanya, didesainnya sendiri itu. ”Sekarang ini juga sudah dijual di Singapura dan Malaysia,” tuturnya, sembari menjelaskan berbagai line berikut harganya dari produk tersebut.

Bagi Fitria, fashion adalah masalah style. Ia menyebut itu untuk menggambarkan kaitan fashion dengan kehidupan pribadinya secara menyeluruh. Ia menggemari sejarah—di situ katanya ada adat istiadat dan budaya yang terhubung dengan fashion—serta traveling. ”Saya suka mengamati,” katanya.

Fitria menuturkan, pilihan pribadinya dalam berbusana yang sekaligus menjadi semacam tips bagi yang merasa berkepentingan. Sebagai tips, dia menganjurkan lebih baik memilih barang-barang yang sifatnya basic atau dasar. Barang-barang itu umumnya akan lebih bertahan, tidak cepat tergulung oleh tren.

”Baju-baju saya kebanyakan berwarna netral. Mengapa, karena itu bisa dipakai berkali-kali,” tuturnya. ”Jaket yang saya kenakan sebelum saya memakai pakaian ini tadi dari desainer muda kita, Stella Rissa.” tambahnya. Selebihnya, katanya, dia menggolongkan diri sebagai wanita yang berdandan terutama untuk diri sendiri terlebih dahulu, sebelum untuk orang lain.

Hmm. meski bukan dianggap prioritas, kami diam-diam sangat menikmati....

 

Share on Facebook
Nilai 5 A A A
Ada 3 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
bomb @ Minggu, 10 Januari 2010 | 23:20 WIB
pesona wanita adalah surga dunia.
trisnadi @ Rabu, 2 Desember 2009 | 08:19 WIB
Rahasia dari seluruh kecantikan adalah semangat. Tiada kecantikan yang gemilang tanpa semangat.
aLghie @ Senin, 30 November 2009 | 02:16 WIB
Pada Bassic nya Wanita emang ingin di mengerti koq . . . Pujiaan adalah slh 1 Senjata yg ampuh jg buat Kita u/ menggaet kaum Hawa :) Tuluslah dlm hal ini . .

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: