Rabu, 10 Februari 2010
Catatan Minggu
Kota Besar

Minggu, 29 November 2009 | 09:32 WIB

Kota dibesarkan oleh kendaraan: sebagaimana metropolitan kemudian memiliki suburb, yang dimungkinkan bertumbuh karena adanya moda transportasi. Sebaliknya, seperti dilihat penulis peraih penghargaan O Henry, Suketu Mehta, dalam bukunya Maximum City, disebabkan kendaraan pula kota besar seperti Bombay kemudian sekarat. Pasti bukan hanya Bombay—yang sekarang menjadi Mumbai—Jakarta pun bukankah tengah sekarat karena ledakan kendaraan bermotor?

Makin hari, sekaratnya kota karena kendaraan bermotor, kian jelas saja. Rasanya baru kemarin, kegiatan menemui narasumber, wawancara, biasa dilakukan dengan mengunjungi sang narasumber di rumah, di ruang tamu mereka. Kini, karena alasan kepraktisan dan pertumbuhan kota—termasuk pusing tujuh kelilingnya kalau harus mencari alamat di jalan-jalan atau gang sempit—sebagian besar orang pasti memilih membuat janji ketemu di mal. Kalau kita teliti membaca media massa, jangan-jangan telah hilang atmosfer sebuah ruang tamu, sosok pribadi dengan suatu lingkungan keluarga yang intim. Yang ada adalah manusia-manusia dengan setting sama: metropolitan yang trendi dan penuh gegas.

Kelihatannya memang tak banyak lagi pilihan bagi penghuni sebuah metropolitan. Pilihan kemungkinan cuma dua. Pertama, takluk pada keseragaman gerombol manusia, mengorting totalitas diri menjadi sebuah sel dari organisme yang lebih besar (manusia sebagai satu sel dari organisme lebih besar bisa diberdayakan sebagai satuan massa, misalnya untuk keperluan demonstrasi. Di Jakarta bisnis massa itu sudah berkembang). Kedua, kita memilih keras kepala, menolak menjadi bagian dari barisan massa yang seperti ternak, keluar dan masuk kandang dalam waktu sama, seperti dilukiskan Dickens dalam Hard Times.

Padahal, seperti dinujumkan oleh hampir semua penggagas urban, masa depan manusia adalah kota besar, urbanisme. Sekarang ini, menurut berbagai studi, kalau dirata-rata separuh penduduk Bumi bermukim di kota. Dari populasi global sekitar 6,6 miliar manusia, 3,3 miliar tinggal di kota-kota, baik menengah maupun besar. Kenaikan terbesar dari tahun ke tahun terjadi di negara-negara berkembang, disebabkan makin terbatasnya sumber-sumber ekonomi dan kehidupan di desa/daerah karena pembangunan yang tak seimbang. Ditarik lebih lanjut, pada tahun 2025, dua dari tiga manusia di negara miskin bakal tinggal di kota. Kelimpahan jumlah penduduk itu menghasilkan pengangguran, konflik—yang gejalanya sudah kita lihat di sekeliling kita.

Dihadap-hadapkan dengan desa (country), kalau desa adalah kenangan masa lalu (dengan segala kedamaian, harmoni, keindahan, serta berbagai romantika lain), kota adalah masa depan. Di seberang pengalaman masa depan, seperti disebut Raymond Williams lewat pembacaannya terhadap teks-teks sastra di Barat, pada umumnya adalah gambaran mengenai ”pulau setelah kematian”: surga atau neraka.

Teks sastra seperti diacu Williams memang cenderung melebih-lebihkan. Hanya saja, siapa yang tidak melihat bahwa selain membesarkan kota, melimpahnya kendaraan seperti di Jakarta juga telah melumpuhkan atau bahkan membikin sekarat metropolitan ini? Di situlah sehari-hari kita terjebak, tak tahu harus berbuat apa, selain teringat ucapan Victor Hugo: semua kota besar schizophrenic alias gila. (BRE REDANA)

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: