Rabu, 10 Februari 2010
KOMPAS/SOELASTRI SOEKIRNO
Suasana rumah Ny Nurhasanah yang terletak di Jalan Hanura 6, Tanah Sereal, Jakarta Barat, Minggu (22/11). Ny Nurhasanah diketahui sebagai penyelenggara arisan Lebaran yang melarikan diri karena tak mampu membayar uang ratusan warga peserta arisan yang ditaksir mencapai Rp 1 miliar. Warga lalu merusak rumah tersebut.
TABUNGAN
Dicari, Bank untuk Rakyat Kecil

Senin, 30 November 2009 | 02:47 WIB

SOELASTRI SOEKIRNO

Menabung, tetapi malah buntung. Begitu nasib ratusan warga Kelurahan Tanah Sereal, Kecamatan Tambora, dan Kelurahan Krukut, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat. Uang mereka yang diperkirakan berjumlah Rp 1 miliar hilang karena penyelenggara arisan ”paket Lebaran” kabur. Ana (40) kini hanya bisa menyesali mengapa ia menjadi pengumpul uang arisan milik 20 orang, yang sebagian besar teman kerja suaminya yang menjadi buruh harian di pergudangan Sunter, Jakarta Utara. Akibatnya, hingga saat ini teman-teman suaminya menagih uang kepadanya. ”Susah tidur. Tiap hari orang minta uangnya. Pulang kampung juga enggak tenang. Nanti si Nur datang, siapa tahu uangnya dibagi,” kata Ana, warga RT 10 RW 09 Krukut, Minggu (22/11).

Nur yang dimaksud Ana adalah Nurhasanah, warga Jalan Hanura 6, Kelurahan Tanah Sereal, yang menjadi bandar arisan. Sejak akhir Agustus lalu, Nur kabur membawa uang milik nasabah arisan bernama ”paket Lebaran” itu.

Ida juga kecewa. Sudah lima tahun ia ikut paket Lebaran yang bernilai Rp 300.000 per paket. Ia ikut tiga paket (Rp 900.000). Untuk itu, ia harus menyetor uang Rp 315.000 yang diangsur selama 45 minggu atau Rp 7.000 per minggu.

”Selama lima tahun, setiap awal puasa saya terima uang Rp 900.000 dan sembako isi Indomie, sirup, gula. Uang buat beli baju baru dan pulang kampung ke Mauk, Tangerang,” katanya. Tiba-tiba, Agustus lalu, Nur kabur. Di tengah pelarian, Nur sempat membayar seperempat dari uang warga. Setelah itu ia tak berkabar lagi.

Kerugian lebih besar dan tragis dialami Ny Nuryati (50). Warga RT 08 RW 09 Kelurahan Krukut ini kehilangan uang jutaan rupiah. Uang tabungannya sebagai tukang cuci pakaian bertahun-tahun, plus uang milik peserta arisan lain yang setiap bulan menitipkan membayar kepadanya, lenyap.

Uang warga yang ia kumpulkan per minggu selama 10 bulan untuk disetorkan kepada Nurhasanah berjumlah sekitar Rp 40 juta. Ketika Nur lenyap, nasabah langsung minta pertanggungjawabannya. Perempuan yang tinggal di kampung amat padat penghuninya itu hanya bisa menangis meraung-raung.

Lebaran menjadi saat istimewa bagi sebagian besar warga. Untuk mendapatkan uang pembeli kebutuhan puasa dan Lebaran, warga berupaya keras menabung. Minimnya penghasilan warga yang menjadi pemulung, penjual sayur, buruh cuci baju, atau pengojek membuat mereka hanya mampu menabung sejumlah Rp 7.000 sampai Rp 14.000 per minggu.

Entah siapa pemilik ide awal, sejak bertahun-tahun lalu muncul paket Lebaran uang, bahan kebutuhan pokok, atau daging di kawasan Kota serta tempat lain, seperti Bekasi dan Surabaya. Penyelenggaranya adalah warga perorangan yang biasanya memberikan iming-iming pemberian bonus bingkisan bahan pokok bagi nasabah.

”Tadinya sih enggak mau ikutan, tapi waktu lihat banyak tetangga bawa paket sembako, saya pengin juga ikut paket Lebaran. Eh, malah ketipu,” kata Iyah, warga RT 04 RW 15, Kelurahan Tanah Sereal.

Semakin banyak warga tertarik ikut paket Lebaran. Setahun-dua tahun paket berjalan lancar. Saat masuk tahun kelima atau keenam, ketika peserta paket mencapai ratusan orang, penyelenggara menghilang.

Dua tahun lalu, Nu, warga Krukut, penyelenggara paket Lebaran, juga menghilang. Agustus lalu Nurhasanah menyusul kabur. Warga gigit jari.

Tak tersentuh

Kondisi ini memperlihatkan warga kalangan bawah tak tersentuh layanan perbankan. Aparat pemerintah bahkan tak melihat ada kebutuhan semacam koperasi bagi warganya. ”Warga saya malu kalau menabung cuma Rp 10.000 ke bank, sedangkan di sini belum ada koperasi,” tutur Ketua RW 15 Tanah Sereal Sholeh Assegaf.

Akibatnya, ketika ada orang mau menyimpankan uang mereka, warga berduyun-duyun mendatanginya. Mereka bahkan rela membayar Rp 15.000 per paket agar bisa menabung.

Menanggapi keadaan itu, Djoko Retnadi, salah satu petinggi di Bank BRI, menyatakan, BI sudah meluncurkan program Tabunganku yang sedang diuji coba. Untuk menjadi nasabah Tabunganku, warga harus membuka rekening dengan setoran awal Rp 50.000.

Untuk warga kelas bawah, seperti di Tambora dan Tamansari, jumlah itu masih terlalu besar. Sementara bagi pihak bank, kalau harus datang ke rumah penabung tentu saja sulit karena butuh biaya operasi yang tidak sedikit. Rakyat kecil rupanya masih harus sabar menunggu sampai ada layanan jasa perbankan yang mau melirik potensi mereka yang sebenarnya cukup besar.

Share on Facebook
A A A
Ada 5 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
endi @ Senin, 30 November 2009 | 14:46 WIB
Kenapa tidak dimanfaatkan saja lembaga pembiayaan yang resmi dan mempunyai badan hukum yang jelas melindungi setiap nasabah atau pemilik uang?
fatkhul @ Senin, 30 November 2009 | 13:58 WIB
Ketidaktahuan dan kepolosan masyarakat bawah kadang dijadikan permainan dan tipuan. Hati-hatilah saudaraku yg mrpk warga akar rumput.
nidya septian @ Senin, 30 November 2009 | 12:05 WIB
oleh sebab itu para tokoh masyarakat sekitar harus jeli melihat situasi keadaan warganya,, diharapkan mereka tidak tertipu lagi.. karena hanya iming2 sembako
mustajab hadi @ Senin, 30 November 2009 | 08:37 WIB
Nabung di BRI aja, 100% bank indonesia, nasabah untung - bangsa untung
pono,spdi @ Senin, 30 November 2009 | 05:57 WIB
saya juga prihatin melihat kondisi tempat saya tinggal, para birokrat aparatur masih pakai sistem nepotisme dalam berbagai hal seperti sembako,blt,

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: