
Senin, 30 November 2009 | 02:53 WIB
Mekkah, Kompas -
Wartawan Kompas, Subhan SD, dari Mekkah melaporkan, kepadatan ini juga terjadi karena jemaah harus segera meninggalkan Mina dan menuju Mekkah sebelum maghrib pada hari itu.
Minggu kemarin, kepadatan sangat terasa setelah dzuhur (bakda zawal). Jemaah berduyun-duyun menuju lokasi melontar jumrah (jamarat). Beberapa meter menjelang terowongan Muasyim yang punya dua terowongan, dengan akses masuk dan keluar terpisah, jemaah berjejalan. Mereka bergerak sangat lambat, bahkan di dalam terowongan jemaah hampir tak bergerak. Persis di depan posko Misi Haji Indonesia itu, tepat di muka terowongan, petugas terus mengumumkan bahwa jemaah haji Indonesia dilarang melontar jumrah pada pukul 11.00-14.30.
”Kami meminta jemaah Indonesia, saat ini larangan keras melempar jumrah hingga pukul 14.30. Saat ini situasi jamarat tidak terkendali. Ini demi keselamatan jemaah. Jemaah yang telanjur menuju jamarat agar menunda atau dipersilakan kembali ke maktab. Sekali lagi ini demi keselamatan jemaah,” kata petugas melalui pengeras suara.
Rombongan jemaah haji Indonesia yang hendak melewati terowongan langsung dicegah petugas. Ini dilakukan petugas agar jemaah tidak berebutan dengan jemaah negara lain yang memiliki postur tubuh lebih besar dan tinggi. Banyak anggota jemaah yang patuh, tapi tak sedikit yang menyelusup di antara jemaah negara lain, tak memedulikan seruan petugas Indonesia.
Ibadah haji tahun ini, menurut Raja Abdullah dari Arab Saudi, boleh dikatakan tahun ibadah yang relatif tanpa gangguan.
”Kami memang tidak menoleransi gangguan apa pun untuk membuyarkan ibadah atau mengancam keamanan jemaah. Keamanan bagi jemaah sangat dijaga ketat dan tak boleh ada kekurangan,” ujar Raja Abdullah, seperti dikutip kantor berita AFP, Minggu.
Memang, ada gangguan alam di Jeddah. Hujan deras Rabu silam memicu banjir bandang yang menelan 103 jiwa, tak jauh dari Jeddah. Sejumlah jalan dan jembatan serta sebagian kota disapu banjir.