Rabu, 10 Februari 2010
KOMPAS/RENY SRI AYU TASLIM
Berselancar di gurun pasir di Moreton Island, Queensland, merupakan salah satu obyek menarik dan pengalaman tak terlupakan.
PERJALANAN
Ke Queensland Aku Kan Kembali...

Senin, 30 November 2009 | 08:52 WIB

Reny Sri Ayu Taslim 

Keindahan Moreton Island, South East Queensland, Australia, sudah tampak sebelum kapal motor Tangalooma Express yang kami tumpangi dari Brisbane merapat di dermaga. Penat dalam perjalanan udara sekitar 7 jam dari Singapura ke Brisbane dan perjalanan laut dengan sedikit ombak selama 1 jam 15 menit antara Brisbane dan Moreton Island rasanya terbayar begitu menginjakkan kaki di pulau ini. Pasir putih dan air laut biru kehijauan serta semilir angin menyambut wisatawan yang datang pagi itu, termasuk rombongan media dari Indonesia yang datang atas undangan Singapore Airlines dan Tourism Queensland.

Berjalan dari dermaga ke penginapan berarti berjalan di antara pesisir pantai di sebelah kiri dan resor serta rumah makan di kanan. Penginapan dan restoran berjajar rapi menghadap laut di sepanjang pesisir. Umumnya restoran di pulau ini menyiapkan gazebo yang tertata apik di halaman, bersebelahan dengan pantai, hanya dipisahkan jalan aspal dan pasir putih. Gazebo-gazebo itu menjadi tempat favorit pengunjung, terutama saat langit di atas laut berubah jingga kala matahari terbenam.

Keindahan Moreton Island mungkin tidak banyak berbeda dengan pulau-pulau pada umumnya, termasuk di Indonesia. Namun, ada beberapa keistimewaan pulau ini yang tidak dimiliki semua pulau. Di sini setidaknya lebih dari 10 lumba-lumba secara rutin datang setiap petang ke pesisir pantai. Tak sekadar menikmati aksi lumba-lumba meliuk-liuk dan melompat, pengunjung didampingi petugas Dolphin Care bisa memberi mereka ikan.

Ada juga burung pelikan yang setiap pagi datang ke pesisir dan siap menyambut ikan yang dilemparkan dengan paruhnya yang besar. Sebagaimana di wilayah lain di Australia, pelikan dan beberapa jenis burung laut lain mudah dijumpai di pesisir pantai.

Kunjungan di Moreton Island tak sekadar melihat binatang laut atau bermain-main di pantai. Obyek menarik lain yang menjadi daya tarik dan favorit pengunjung adalah berseluncur di gurun pasir. Pulau ini memiliki hamparan gurun pasir putih yang berbukit-bukit seluas lebih dari 4.000 hektar.

Hari itu pengelola Moreton Island meminta kami mencoba berseluncur. ”Ini mudah dan menyenangkan. Ayolah, kalian bisa melakukannya. Rasakan sensasi terbang seperti elang,” kata John Paul yang memandu pengunjung untuk meluncur.

Untuk aksi menegangkan sekaligus menyenangkan ini, kami diberi bekal selembar papan tipis berlapis mika, seukuran tinggi dan lebar badan. Untuk meluncur, kami harus tengkurap beralas papan mika dengan kedua tangan memegang bagian depan papan. Dari ketinggian 50-500 meter, kami meluncur ke bawah. Sungguh pengalaman tidak terlupakan saat sensasi menyenangkan dan sedikit menakutkan bercampur jadi satu.

”Sungguh memicu adrenalin. Ada rasa khawatir, ngeri, tapi menyenangkan. Awalnya takut, tapi setelahnya mau mencoba lagi,” kata Andrea Lee, seorang presenter acara traveling di salah satu TV swasta yang ikut dalam rombongan.

Gold Coast, surga wisatawan

Belum puas di Moreton Insland, kami harus kembali ke Brisbane. Sayang, karena hanya semalam di Brisbane, kami harus melanjutkan perjalanan ke Gold Coast keesokan harinya. Walau hanya semalam, kami sempat berkeliling melihat pemandangan kota dari Sungai Brisbane dan singgah ke kawasan South Bank, tempat rekreasi di tengah kota. Brisbane memang terkenal dengan kota sungai. Tak heran bangunan-bangunan megah di kota ini bisa dinikmati dari sepanjang pesisir sungai.

Perjalanan Brisbane-Gold Coast berjarak tempuh 1-1,5 jam berkendara mobil. Gold Coast boleh dibilang daerah wisata favorit di Queensland, lebih kurang seperti Bali di Indonesia. Menurut data Tourism Queensland, tahun ini hingga akhir Juni kunjungan ke Queensland mencapai 2.012.000 orang. Rinciannya, yang berwisata sebanyak 1.454.000 orang, sementara kunjungan dari orang-orang yang punya keluarga bekerja dan sekolah di negara bagian ini sebanyak 484.000 orang. Adapun kunjungan untuk urusan bisnis sekitar 166.000 orang.

Dari jumlah itu, 992.000 orang ke Brisbane dan 785.000 orang ke Gold Coast. Selebihnya terbagi ke 10 wilayah lain di Queensland. Di Gold Coast, dari 785.000 kunjungan, 617.000 di antaranya untuk liburan dan hanya 123.000 kunjungan keluarga serta bisnis 32.000 kunjungan. Bandingkan dengan Brisbane yang jumlah pengunjungnya 992.000 orang, tetapi hanya 505.000 orang yang berlibur, 257.000 orang melakukan kunjungan keluarga, dan 107.000 untuk urusan bisnis.

Pengunjung di Gold Coast multietnik, mulai dari Selandia Baru hingga negara-negara di Asia, seperti Hongkong, China, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Indonesia. Belum lagi pengunjung dari Eropa, seperti Perancis, Jerman, Inggris, dan Italia. Hingga akhir Juni, pengunjung dari Indonesia yang berlibur di Gold Coast tercatat sekitar 8.000 orang. Karena multietnik, fasilitas yang tersedia—termasuk rumah makan— juga banyak pilihan. Untuk lidah Indonesia, walau tidak ada rumah makan Indonesia, rumah makan Malaysia, China, atau Thailand bisa jadi pilihan.

Warga Gold Coast juga sangat terbuka bagi pengunjung dari negara mana pun. Keramahan ini saya alami saat berjalan-jalan sendiri hingga tengah malam. Dengan terjadinya berbagai aksi terorisme di Tanah Air beberapa tahun belakangan, saya sempat khawatir bakal diperlakukan berbeda di Australia. Nyatanya tidak terbukti.

Gold Coast adalah daerah pantai yang sangat ramai dan mendapat julukan surga para peselancar (Surfers Paradise). Setidaknya ada 70 kilometer garis pantai yang bisa digunakan untuk berbagai aktivitas, seperti renang dan selancar. Hampir setiap hari kawasan pantai Gold Coast dipenuhi pengunjung. Nama Surfers Paradise diabadikan sebagai nama salah satu kawasan teramai di kota ini berupa pertokoan, rumah makan, kafe, dan hotel. Di kota ini, bangunan tinggi dan megah, bahkan yang berlantai 77 seperti Q-Deck, dibangun di pesisir pantai.

Hari itu kami diminta belajar dasar-dasar berselancar. ”Ini mudah. Anda tidak harus pintar berenang untuk belajar selancar,” kata Lisa Webber, salah satu pengajar surfing.

Lagi-lagi menjadi pengalaman tak terlupakan, apalagi baru kali ini saya belajar berselancar. Memang tidak serta-merta saya menjadi terampil, tapi setidaknya ketika melihat aksi peselancar berjungkir balik di antara ombak, saya bisa paham mengapa mereka begitu menikmati.

Gold Coast tak cuma pantai, tapi juga banyak obyek wisata lain yang bisa menjadi pilihan. Mereka yang senang tantangan dan permainan yang menegangkan bisa mengunjungi Movie World dan Dream World.

Di Movie World, wahana seperti tower scream dan roller coaster sungguh bikin jantung seperti mau berhenti berdetak. Namun, antrean pengunjung untuk mencoba wahana itu selalu panjang.

Selain menikmati wahana menegangkan, pengunjung bisa bertemu tokoh film dan kartun favorit seperti Marilyn Monroe, Batman, Shrek, dan Tweety. Setiap sore tokoh-tokoh tersebut akan berkeliling kompleks Movie World, bertemu dengan para pengunjung. Tentu saja pengunjung bisa mengabadikan mereka.

Di Dream World, pengunjung bisa melihat koala dan kanguru, dua fauna khas Australia. Tak sekadar melihat, pengunjung juga bisa memberikan makan kepada kanguru.

Sebenarnya ada banyak tujuan wisata lain di Gold Coast yang tak bisa dikunjungi semuanya dalam waktu singkat. Karena itu, di ujung perjalanan selama 7 hari di Queensland, saya berdoa, ”Suatu hari, semoga bisa kembali berkunjung….”

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: