Rabu, 10 Februari 2010
Antisipasi Banjir
Mereka Selalu Waspada Setiap Saat

Senin, 30 November 2009 | 13:48 WIB

Asmari (30), warga RW 20 Kelurahan dan Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Minggu (29/11) sore, tampak sedang berada di loteng rumahnya. Di sana, dia menyimpan seluruh perabot rumah dan peralatan elektronik. Itu dilakukan karena lantai dasar tertutup lumpur setebal 40 cm.

Beberapa warga di sekitarnya mengalami nasib serupa. Tidak hanya lantai dasar rumah, lumpur juga menutupi jalan masuk dan halaman sehingga semuanya berwarna coklat gelap. Bau menusuk tercium karena lumpur itu bercampur sampah.

"Percuma juga dibersihkan. Rumah-rumah di daerah ini akan kembali tergenang bila hujan deras kembali mengguyur," ujar Asmari yang sudah 10 hari absen berjualan bakso gara-gara rumahnya tergenang banjir.

Genangan banjir setinggi 1 meter bukan lagi menjadi pemandangan aneh bagi Asmari dan warga Kampung Cieunteung yang lain. Jika genangan air sudah tinggi, mereka harus mengungsi dan baru kembali setelah surut. Ini rutin dilakukan selama musim hujan.

Asmari menjelaskan, banjir bisa terjadi selama beberapa jam bila hujan terus berlangsung. Mereka lebih sering menengadah ke langit untuk memantau cuaca pada musim hujan.

"Banjir bisa terjadi bila ada awan gelap berarak dari arah utara, yaitu dari Kota Bandung, arah selatan atau dari daerah Pangalengan, ataupun arah timur dari daerah Majalaya. Kalau semuanya gelap, tinggal tunggu waktu bagi daerah Baleendah dan Dayeuhkolot tergenang air," ujarnya.

Menegangkan

Tinggal di Sungai Citarum selama musim hujan bagi warga Baleendah dan Dayeuhkolot sangat menegangkan. Dalam hitungan jam, sungai tersebut bisa meluap hingga ke permukiman warga. Beberapa penyebab seperti permukiman warga yang dibangun terlalu dekat dengan bibir sungai, atau daerah itu merangkap menjadi muara antara Sungai Citarum dan anak sungainya.

Majalaya yang juga dilalui Sungai Citarum tidak kalah waswas karena meluapnya sungai di daerah hulu bisa menyebabkan banjir. Meski berlangsung dalam waktu singkat, banjir di Majalaya lebih berbahaya karena arusnya deras.

Adang Suhendar bersama istri, Ayuningsih, harus merelakan istirahat mereka bila hujan turun di Majalaya atau di daerah hulu sungai. Tugasnya sebagai penjaga pos pantauan ketinggian air sungai mengharuskan mereka mencatat kondisi permukaan air setiap jam. Bila banjir tengah berlangsung, pelaporan dipersingkat menjadi setiap 15 menit.

Laporan Adang dimanfaatkan Garda Caah, organisasi sukarelawan tanggap bencana banjir, untuk memperingatkan warga agar bersiap. Dengan demikian, warga sudah mengungsi begitu air meluap dari bibir sungai ke permukiman penduduk dan jalanan. (Didit Putra Erlangga R)

 

 

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: