
Rabu, 2 Desember 2009 | 11:10 WIB
Tak banyak yang tahu apa saja obyek wisata di Indramayu. Orang hanya mengenal mangga cengkir yang manis atau perempuan-perempuan yang katanya eksotis. Padahal, ada sejumlah lokasi wisata dan kegiatan budaya yang menarik dikunjungi.
Dilihat dari alamnya, Indramayu punya garis pantai sepanjang 114 kilometer, yang 10-20 persennya kaya potensi kuliner, di antaranya Pantai Tirtamaya, Glayem, dan Eretan. Sajian makanan laut jadi andalan wisata pantai itu. Ada juga Pulau Biawak, berjarak 40 km dari daratan Indramayu, yang menyuguhkan keindahan biota dasar laut, serta Taman Air Bojongsari yang baru dibuka.
Untuk wisata budaya dan kesenian, ada tari topeng khas Indramayu milik Mimi Rasinah, wayang golek cepak, nadran (pesta laut), serta ngarot (pesta sedekah bumi). Masih ada lagi batik pesisir paoman yang tak kalah bagus dari batik trusmi di Cirebon.
Sayang, hanya sedikit informasi yang sampai di telinga calon wisatawan. E Trisna Hendarin, Kepala Bidang Kebudayaan dan Pariwisata pada Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Indramayu, mengakui, promosi potensi wisata alam dan seni budaya Indramayu belum menyentuh regional Jawa Barat. Kini, brosur, leaflet, dan cakram padat (CD) produk wisata dan seni budaya Indramayu hanya beredar di sekitar hotel dan biro perjalanan di Indramayu.
Minimnya dana lagi-lagi menjadi alasan media promosi itu tak mencapai Bandung, Jakarta, atau Cirebon dan Kuningan. Selama ini yang kerap dilakukan adalah mengikuti acara budaya skala regional dan nasional. "Rutin 2-3 kali seni Indramayu pentas di Taman Mini Indonesia Indah," ujar Trisna.
Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Indramayu Karno Dirgaatmadja, Pemerintah Kabupaten Indramayu sudah berpromosi, tetapi kurang gereget. Padahal, jumlah hotel terus bertambah, termasuk dua hotel berbintang. Biro perjalanan wisata Cirebon pun mulai tertarik membawa tamu ke Indramayu.
"Tetapi, yang penting bukan cuma promosi. Sapta Pesona harus ditingkatkan. Swasta dan aparat harus bisa memberikan keamanan dan kenyamanan kepada wisatawan," kata Karno.
Tersendat
Menurut Ade Jayani (28), pengelola Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah di Desa Pekandangan, Kecamatan Indramayu, niat Pemkab Indramayu menjadikan kesenian tradisional sebagai paket wisata budaya belum optimal. Padahal, hampir tiap tahun ada saja orang asing dan dari Jakarta yang datang ke sanggarnya untuk melihat Mimi Rasinah menari topeng.
Peluang membawa turis untuk belajar singkat menari topeng sudah dimanfaatkan salah satu biro perjalanan di Jakarta. Meski belum rutin, kedatangan wisatawan asing itu mau tak mau perlu ditunjang kelayakan infrastruktur lokasi wisata. Karena itu, Ade merapikan sanggarnya agar layak dikunjungi dan menjual berbagai suvenir bercorak topeng dan batik paoman. (Timbuktu Harthana)