
Kamis, 17 Desember 2009 | 04:56 WIB
Palembang, Kompas -
Demikian disampaikan Direktur Pemasaran PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Bowo Kuntohadi, seusai kegiatan ”Lomba Pemupukan Petani”, Rabu (16/12). Selain PT Pusri, kegiatan dihadiri ratusan petani dan Asosiasi Penyalur Pengecer Pupuk Pusri.
Berdasarkan data PT Pusri, kebutuhan dan produksi pupuk organik secara nasional mencapai 910.000 ton. Dari total kebutuhan itu, PT Pusri ditugaskan untuk memproduksi 180.000 ton. Sementara itu, selama 2009 ini, produksi pupuk organik Pusri baru sekitar 5. 000 ton. Produksi belum digenjot karena sifat program pupuk organik masih dalam tahap uji coba. Melalui keputusan pemerintah, pupuk organik bersubsidi dijual Rp 500 per kilogram kepada petani.
Ditambahkan, Pusri saat ini sudah menyepakati program kerja sama produksi dengan 42 mitra atau perusahaan swasta. Nantinya perusahaan swasta inilah yang akan membuat pupuk organik sesuai dengan kapasitas maksimal. Adapun PT Pusri berkewajiban membeli produk tersebut.
”Setelah dibeli, kami juga harus memasarkannya ke mata rantai distribusi pertanian, mulai dari distributor sampai pengecer hingga ke petani,” tutur Bowo.
Ditanya soal perkembangan ekspor pupuk urea, Bowo menjawab, sampai akhir tahun ini masih ada sisa kuota sebesar 51.000 ton, dari total kuota yang diizinkan pemerintah sebesar 196.000 ton. Rencananya, sisa kuota tersebut akan diekspor lagi pada Februari 2010,
”Meski demikian, perlu dicatat juga bahwa ekspor urea ini baru bisa dilakukan tanpa halangan dengan mempertimbangkan dua aspek, yakni ada kelebihan produksi serta kebutuhan untuk sektor pertanian padi dan perkebunan di dalam negeri yang sudah terpenuhi lebih dulu,” papar Bowo.
Ditegaskan juga, belum terpenuhinya kuota ekspor urea selama tahun ini bukan berarti kinerja PT Pusri tidak optimal. Menurut Bowo, hal tersebut lebih disebabkan kendala teknis pengangkutan. Sampai sekarang, sebagian kapal pengangkut pupuk urea milik PT Pusri lebih diprioritaskan untuk mendukung aktivitas distribusi pupuk urea bersubsidi.