Senin, 22 Maret 2010
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Obsesi Karateka Umar Syarief

Rabu, 30 Desember 2009 | 03:40 WIB

Mohammad Bakir

”Kalau untuk Merah Putih, saya rela berbuat apa saja. Jangankan hanya membawa bendera sendirian, ketika kaki saya pincang pun, saya bersedia bertanding. Itu semata demi Merah Putih,” ungkap Umar Syarief, karateka nasional, yang sejak April tahun 2007 tinggal di kota St Gallen, Swiss.

Umar tidak pernah menyangka akan tinggal di Swiss. Kepergiannya ke Swiss awalnya untuk menjalani operasi seusai tampil di Asian Games 2006 Qatar. Saat itu, meski dengan kaki pincang, Umar tampil dan merebut medali perunggu. ”Bertanding hanya dengan kaki kiri buat saya tidak masalah. Yang penting, bendera Merah Putih bisa berkibar,” ujarnya.

Umar tak hanya omong kosong. Seusai menjalani operasi di Swiss, sesuai anjuran dokter, dia harus beristirahat selama setahun. Selama itu Umar hanya berupaya menjaga kebugaran dengan mengunjungi pusat kebugaran (gim). Pada awal tahun 2008 dia baru mulai berlatih ringan bersama istrinya yang juga karateka asal Malaysia.

Pada Maret 2008 Umar mendaftar ikut kejuaraan karate Liga Swiss. ”Saya mendaftar sendiri, bawa bendera sendiri, dan bertanding sendiri. Hanya istri yang mendampingi saya. Alhamdulillah, saya meraih gelar juara di kelas 80 kilogram,” ujarnya.

Santun dan tegas

Tidak berhenti di situ, Umar terus membuat prestasi di Eropa meski hanya sendirian mewakili Indonesia. Sedikitnya, Umar menjuarai kejuaraan karate Jerman Masters dan meraih perunggu pada Austria Open. ”Untung istri saya juga karateka sehingga dia bisa mengerti kenekatan saya,” katanya.

”Setelah itu saya ikut PON di Kaltim dan meraih tiga medali emas. Keikutsertaan saya saat itu sekadar ingin menunjukkan bahwa Umar masih eksis karena sudah hampir dua tahun sejak Asian Games masyarakat karate Indonesia tidak melihat saya bertanding,” katanya.

Bahkan, Umar masih menyempatkan diri mengikuti kejuaraan karate Piala KSAD di Jakarta pada akhir 2008. ”Sekali lagi saya bersyukur karena dapat menjuarai Piala KSAD,” ujar Umar, yang juga keluar sebagai best of the best kelompok putra.

Namun, saat tampil pada laga pertama, jari kiri Umar patah. Akibatnya, dia membatalkan keikutsertaannya pada kejuaraan karate Eropa di Montenegro. ”Ya, itulah risiko karateka,” kata Umar pendek.

Penampilan Umar sehari-hari jauh dari kesan kekerasan meski setiap hari setidaknya dia berlatih selama empat jam. Gaya bicaranya santun, tetapi tegas. Dia bukan sosok yang sulit diajak bicara. Kesenangannya bercanda membuat dia dikerumuni oleh banyak atlet ataupun wartawan, di mana pun dia berada.

”Saya hidup memang untuk mencari teman, bukan musuh. Sama persis dengan keberadaan saya di lingkungan karate, saya hanya ingin mencari teman, bukan musuh,” ujar Umar.

Hampir seluruh hidup Umar tidak bisa dilepaskan dari karate. Tiga kali menjalani operasi patah tulang, Umar merasa perjuangannya di dunia karate belum berakhir. Umar memilih menjauh dari sanak keluarga justru karena ingin mencapai prestasi yang lebih baik.

Terjun pertama kali di arena SEA Games 1997 Jakarta, pemuda kelahiran Sepanjang, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, tahun 1976, ini langsung menyabet medali emas. Sejak itu Umar menjadi langganan mewakili Indonesia di hampir seluruh kejuaraan karate internasional.

Dua bulan sebelum tampil di SEA Games 2005 Filipina, Umar menjalani operasi saat mengikuti dan menjadi juara European Masters di Jerman. ”Alhamdulillah, saya dapat meraih tiga medali emas,” ujarnya.

Paha dibalut

Ketika menjalani latihan menghadapi Asian Games 2006, Umar kembali mendapat cedera sehingga harus sekali lagi menjalani operasi pada bulan Agustus di Jerman. Saat itu dokter meminta Umar beristirahat selama satu tahun. ”Baru empat bulan istirahat, hati saya berontak dan bertekad tampil di Asian Games,” katanya.

Sejak babak awal, setiap kali bertanding, Umar membalut kedua pahanya dengan perban kuat-kuat. Perjalanan Umar mempersembahkan medali begitu dahsyat. Di babak perebutan medali perunggu, repechage, Umar mengalahkan karateka Korea Selatan, Jeang Kwon-hong, 6-3.

Saat menghadapi karateka Korsel itu, selama sembilan menit Umar seolah berjudi dengan nasib. Dengan cederanya, Umar juga harus melawan risiko cacat atau lumpuh. ”Risiko itu akan terjadi jika paha saya terkena tendangan, padahal otot ligamen saya masih hancur. Saya bersyukur, waktu itu masih bisa bangun dan meraih perunggu,” katanya.

Seusai Asian Games, Umar berniat pensiun dan menghabiskan waktu bersama istrinya yang warga negara Swiss. Niat itu disampaikan Umar karena dia harus kembali menjalani operasi. Namun, kecintaan akan karate membuat Umar dan istrinya membatalkan niatnya dan berencana membuka tempat latihan (dojo) karate.

”Sebelum operasi dokter di Swiss meminta saya istirahat total satu tahun, kalau tidak, saya tidak akan pernah lagi bermain karate. Sedikit ancaman itu yang membuat saya takluk dan mundur dari SEA Games Thailand,” ujarnya.

Namun, Umar tetaplah Umar. Dengan semangat menyala, dia berhasil melewati masa-masa pemulihan fisik, akhirnya dapat kembali berprestasi. Bahkan, Umar satu-satunya karateka Indonesia yang mempersembahkan medali emas dari nomor kumite (pertarungan).

”Alhamdulillah, saya masih bisa mempersembahkan medali emas pada usia yang sudah tidak muda lagi. Saya berharap masih dapat berprestasi untuk satu-dua tahun ke depan,” katanya.

Pelatih karate nasional, Muhammad Gusti, menyatakan, usia tidak terlalu berpengaruh pada penampilan seorang karateka yang punya disiplin seperti Umar. ”Selama di Eropa dia tidak punya pelatih yang mengawasi. Karena disiplin dan dedikasinya, dia berhasil merebut medali emas di Laos. Itu kelebihan Umar,” katanya.

Ditanya obsesinya sebelum mengundurkan diri dari dunia karate, Umar tegas mengatakan, ”Aku ini ingin meraih medali emas pada Asian Games 2010. Itu yang paling konkret sebab setelah itu karate tidak lagi dipertandingkan di multi-event Asia, tetapi menjadi bagian Asian Martial Art.”

Sebagai karateka profesional, Umar tentu tahu bagaimana cara meraih medali emas tersebut. ”Latihan dan kompetisi di berbagai kejuaraan Eropa membuat saya lebih mudah menjaga kondisi. Meski harus diakui, karateka dunia banyak berasal dari negara di Asia,” katanya.

Umar tidak menampik kemungkinan bahwa medali emas Asian Games sama berartinya dengan juara dunia. “Tetapi, paling dekat Asian Games karena itulah target saya dulu. Kalau kejuaraan dunia, itu kan single event,” katanya.

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: