Minggu, 21 Maret 2010
PERGURUAN TINGGI
Guru Besar Diduga Menjiplak

Rabu, 10 Februari 2010 | 03:23 WIB

Bandung, Kompas - Guru besar Jurusan Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, AABP, dituding menjiplak karya Carl Ungerer, seorang penulis asal Australia. AABP, yang kolumnis Harian Kompas dan The Jakarta Post ini, setidaknya melakukan enam kali plagiarisme, mengutip tanpa menyebutkan referensi.

Konsekuensinya, guru besar Hubungan Internasional berumur 43 tahun ini harus siap diberhentikan tidak hormat dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Tak hanya itu, gelar profesornya pun kemungkinan dicabut. Dalam jumpa pers, Selasa (9/2), Rektor Unpar Cecilia Lauw mengatakan, ia dan segenap sivitas akademika di Unpar sangat terpukul dan kecewa terkait mencuatnya kasus ini.

”Ini adalah perbuatan yang tidak dapat ditoleransi meskipun itu dilakukan secara tidak sengaja,” katanya.

Kabar tentang plagiarisme yang dilakukan guru besar ini terkuak dari keterangan (disclaimer) editorial kolom opini The Jakarta Post yang dirilis 4 Februari 2010.

Dalam keterangan ini disebutkan, artikel ”RI As A New Middle Power”, dimuat 12 November 2009, ternyata mirip dengan karya Ungerer yang berjudul ”The Middle Power, Concept in Australia Foreign Policy”. Karya Ungerer ini telah lebih dulu dimuat di Australian Journal of Politics and History, volume 53.

Kabar ini sibuk dibahas di sejumlah blog, salah satunya Kompasiana. Hal ini dibenarkan Ketua Jurusan HI Unpar Purwadi Hermawan. ”Setidaknya ada empat tulisan. Tetapi, yang paling dominan adalah tulisan terakhir di Jakarta Post (”The Middle Power”),” ujarnya.

Mencuatnya kasus ini menimbulkan banyak keprihatinan beragam kalangan. Wakil Dekan Fisip Unpar Pius Sugeng Prasetyo mengatakan, apa yang dilakukan guru besar itu bertentangan dengan upaya untuk menanamkan aspek kejujuran akademis.

Menyinggung soal sanksi yang akan diberikan, Cecilia Lauw menegaskan, Unpar telah memproses usulan pemberhentian dengan tidak hormat. Di sisi lain, guru besar ini pun sudah mengundurkan diri terhitung sejak Senin, 8 Februari 2010.

Sementara itu, hingga kemarin, AABP belum bisa dikonfirmasi mengenai hal ini. Ia tidak hadir mengajar di kampus sementara telepon selulernya juga tidak aktif. Menurut salah seorang mahasiswanya, Theresia (20), dalam kuliah beberapa waktu lalu, ia sempat meminta maaf. Melalui situs jejaring sosial Facebook, ia menyampaikan permohonan maaf. Bunyinya, ”I do apologize for what i have done, unintentionally. Thank for all the concerns”. (jon)

Share on Facebook
A A A
Ada 15 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
sugeng @ Kamis, 11 Februari 2010 | 15:03 WIB
Prihatin dengan apa yg dilakukan AABP, tapi salut dengan keberanian ungkapkan kesalahan
hariatmoko @ Kamis, 11 Februari 2010 | 13:11 WIB
mungkin dengan begini setiap akademisi dan kita bisa lebih belajar untuk menjadi lebih baik. terlebih untuk belajar mengakui kesalahan dan memperbaikinya. OK!
PMII UMM @ Kamis, 11 Februari 2010 | 00:47 WIB
betulkah dia seorang profesor? ahh, bukan dia saja yg salah.. tapi hampir semua masyarakat akademika yg bodoh krn melewatkan keyataan ini. kita harus lebih jeli
dusoposopo @ Rabu, 10 Februari 2010 | 21:49 WIB
lho memangnya jiplak-menjipak aneh di negara kita? jujur aja, mayoritas skripsi s-1 dan thesis s-2 di universitas2 di negeri kita ini kan hasil jiplakan. ya to?
jember @ Rabu, 10 Februari 2010 | 21:09 WIB
gw taw siapa tu dosen..dulu pernah ngehina kampus gw..gr2 skripsinya g mutu..mending g mutu dari pada plagiat...

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: