
Rabu, 10 Februari 2010 | 03:46 WIB
Mengenakan kemeja korps pegawai negeri baru, dengan warna dasar hijau itu, apakah terasa ada yang berbeda? ”Ada. Rasanya plong,” tukas Koko Prasetyo Darkuncoro (29), atlet voli pantai, yang pada Senin (8/2) dikukuhkan menjadi pegawai negeri sipil di lingkungan Kantor Menteri Pemuda dan Olahraga.
Peraih emas Asian Beach Games 2008 dan perak Asian Games 2002 ini terus tersenyum, meluapkan rasa gembira. Dasar pembawaannya memang ramah. ”Setidaknya masa depan sudah di tangan. Kan tidak selamanya saya menjadi atlet,” ujar pria bertinggi badan 185 cm ini.
Koko adalah satu di antara 67 atlet yang diangkat menjadi PNS melalui Surat Keputusan Menpora Nomor 0015/2010. Ditambah dengan pegawai nonatlet, jumlah PNS baru berjumlah 112 orang. Mereka akan mengisi pos-pos kerja di wilayah Kementerian Pemuda dan Olahraga di seluruh Indonesia.
”Siap ditempatkan di daerah?” tanya Menpora Andi Mallarangeng. ”Siaap...,” seru para PNS baru, serentak. ”Papua juga oke,” bisik seorang PNS. Andi menyambung, PNS itu adalah
Bagi atlet, pekerjaan utama mereka tetap di bidang keatletan. Mereka akan berkompetisi di sejumlah kejuaraan, khususnya yang mewakili negara. Jika paripurna sebagai atlet, fungsi kepelatihan akan lebih menonjol.
Sebagian besar atlet memang mencita-citakan profesi PNS ini. PNS ini ibarat celengan, sangat dibutuhkan saat kita kekurangan uang. PNS menjadi tabungan apabila atlet sudah tak mampu lagi berkompetisi karena usia yang terus melaju.
Dengan sebuah profesi tetap, dengan gaji yang pasti diterima setiap bulan, atlet bisa berkonsentrasi kepada kompetisi. Menjadi PNS menjadi satu motivasi besar untuk mengejar prestasi.
”Saya kini sudah mempunyai pegangan. Pemerintah memberi jalan buat saya untuk maju. Saya tidak lagi khawatir nanti mau apa jika sudah tak bisa berlari,” tutur Trianingsih (22), peraih dua medali emas untuk nomor lari 1.500 meter dan 5.000 meter di SEA Games Laos 2009.
Cewek manis beralis tebal ini kini makin fokus memikirkan Asian Games 2010 Guangzhou. ”Saya sedang memperbaiki gerakan tangan, agar saat berlari tak banyak energi yang terbuang,” kata mahasiswi tingkat akhir Jurusan Manajemen STIE AMA Salatiga, Jawa Tengah, ini.
Senior Trianingsih di atletik, Jauhari Johan (27), pelari 5.000 dan 10.000 meter, sudah nyaman menjadi pegawai BUMD, tepatnya di Bank Sumsel, sejak tahun 2007. Ia kini tengah menanti kehadiran anak pertamanya, bersiap menjadi bapak.
”Waktu diangkat jadi pegawai, rasanya senang, prestasi kita dihargai dengan diberi pekerjaan,” ujarnya. ”Menjadi atlet itu ada batas umurnya. Setelah tak berprestasi lagi, atlet butuh pekerjaan,” lanjut Jauhari.
Syarat untuk diterima menjadi PNS tidaklah mudah. Ia setidaknya pernah meraih emas di PON, perak di SEA Games, atau perunggu di Asian Games.