Minggu, 7 September 2008
Mengubah Dunia dengan Kartun
Sabtu, 6 September 2008 | 03:00 WIB

Edna C Pattisina

Senyum manis dan goresan pena yang tajam bertemu pada diri Chung In Kyung, doktor kartun pertama di dunia. Lihat saja salah satu gambarnya: seorang pria dengan rok pendek, pelayan berwajah seperti mantan Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi, menoleh kepada majikannya yang berwajah seperti Presiden AS, George W Bush. Sambil tersenyum, pelayan itu membuang buku Artikel Ke-9 Konstitusi, bagian dari konstitusi Jepang yang berisi klausul antiperang.

Gambarnya yang lain menunjukkan seorang lansia (lanjut usia) Jepang duduk di tempat tidur. Di sampingnya, seorang pemuda berjas lengkap menggerakkan sebuah pendulum.

”Di Jepang, catatan pembayaran premi asuransi hari tua hilang. Saya ingin menunjukkan bagaimana pemerintah berusaha menghipnotis orang-orang tua agar lupa,” tukas In Kyung.

Di tengah arus industri komik manga yang konsumennya mendunia, Chung In Kyung berdiri tegak dengan kesukaannya. Ia kurang merasa sesuai dengan manga yang panjang, tetapi memiliki gaya dan cerita yang bisa dikatakan sama. Padahal, menurut dia, justru kekuatan kartun itu ada dalam bentuk satu panel yang bisa berbicara dan diinterpretasi dari berbagai sudut pandang.

Chung In Kyung merasa lebih bisa dan pas dalam mengekspresikan pendapatnya lewat kartun. Seperti gambar orang tua yang dihipnotis itu dibuatnya ketika mengetahui berita hilangnya catatan asuransi. Menurut dia, pemerintah yang tak bersih berusaha mencuci otak orang- orang tua agar tetap berpikir bahwa pemerintah itu baik.

”Saya suka isu-isu sosial dan politik, dan suka menggambar sejak kecil. Makanya saya gabungkan saja jadi kartun politik,” kata perempuan asal Korea ini.

Gara-gara orangtua melarang dia masuk sekolah seni, gadis ini mengalah dengan belajar pada jurusan sejarah. Namun, rupanya hal itu tak memadamkan cita-citanya. ”Saya pikir, untuk jadi kartunis yang bagus harus mengerti konteks sejarah,” katanya.

Tahun 1996, setelah menjadi sarjana sejarah, ia pergi ke Jepang untuk mendapatkan wawasan tentang komik manga. Awalnya, ia ingin belajar untuk mengasah teknik menggambar. Ing Kyun lalu masuk ke Departemen Kartun di Universitas Seika, Kyoto, karena di sini ada departemen kartun yang mengajarkan pula dasar-dasar seni gambar komik.

”Eh, pada tahun kedua saya malah melupakan semua keinginan itu dan memutuskan untuk mendalami seni kartun,” katanya.

Kegigihan

Kegigihan perempuan pemilik senyum manis ini juga terlihat saat ia memutuskan untuk mengejar gelar doktor. Lulus dari jenjang magister, ia direkomendasikan profesornya untuk melanjutkan ke jenjang doktoral. Ia memilih menulis tesis tentang Sun Hwan Kim, kartunis senior paling berpengaruh dari Korea yang selama ini dikenal galak sehingga tidak ada seorang pun yang mau mewawancarainya.

Chung In Kyung sempat merasakan ditolak Sun Hwan Kim. Namun, ia tak menyerah. Pada akhirnya ia berhasil mewawancarai dan membuat penelitian tentang tokoh ini dan karya-karya kartun politiknya, Gobau Yonggam.

Tesis In Kyung juga membandingkan kartun Sun Hwan Kim dengan kartun editorial di negara-negara lain, seperti Om Pasikom karya GM Sudarta di Indonesia.

”Kartun Sun Hwan Kim sangat populer. Pada era 1961-1987, saat beberapa kali pemerintah melarang kartun ini dicetak, masyarakat menelepon untuk menanyakan kartun tersebut,” ceritanya.

Penelitian ini membawa In Kyung menjadi doktor kartun pertama di Seika University, Kyoto—yang juga berarti di dunia. Toh ia tidak merasa hal itu lantas menjadikan dirinya luar biasa.

”Ah, saya hanya ingin menggambar. Itulah hidup saya. Sejujurnya, gelar doktor tak ada hubungannya dengan menjadi kartunis yang baik,” tegasnya.

Kecintaannya pada kartun politik menjadi energi In Kyung. Ia menyadari, ada masalah-masalah kultural yang menjadi alasan belum berkembangnya kartun politik di Jepang. Ini dirasakannya langsung, di mana sebagai orang asing di Jepang, In Kyung mengakui kalau ia memiliki keleluasaan dalam derajat tertentu.

”Orang Jepang itu cinta damai. Jadilah mereka takut untuk menyatakan pendapat kritisnya,” cerita In Kyung yang sudah menggelar tiga pameran tunggal di Jepang dan Korea.

Mengajar di almamaternya, Seika University, Kyoto, In Kyung selalu menggarisbawahi kalau menggambar itu penting. Namun, yang terpenting adalah ide. Kartunis harus tahu banyak hal, tak cukup hanya keterampilan teknis semata. Kartunis harus berpengetahuan luas di bidang seni, sosial, politik, sejarah, sampai ekonomi. Dengan bekal itu, seorang kartunis bisa membuat kartun yang mampu mengangkat opini orang kebanyakan, dalam bentuk yang sederhana sekaligus menyentil.

Imajinasi tak bisa diajarkan

Bicara tentang seni, katanya, sekolah sama sekali tak bisa mengajarkan imajinasi karena itu bersifat sangat pribadi. Sebagai profesor di Departemen Kartun, ia berusaha memberikan ”alat” agar mahasiswa bisa lebih jeli dalam memberi penekanan terhadap ide yang disampaikan.

Menurut In Kyung, orang Jepang cenderung tidak tertarik pada politik dan individualis. Apalagi ada teknologi digital yang secara langsung mengubah secara mendasar gaya hidup mereka.

Bercakap-cakap dengan In Kyung, beberapa waktu lalu di Jakarta, sangat terasa bahwa di balik kelembutannya, tekanan kata-katanya menunjukkan tekad yang kuat. Menarik pula disimak komentar In Kyung tentang posisi kartun di tengah individualisme dan gaya hidup digital saat ini.

”Semuanya itu begitu datar dan dingin. Suatu hari nanti kita akan merasa lelah dan pasti akan berubah. Saya ingin kartun saya yang mengubahnya,” kata kartunis yang ingin menggambar padatnya jalan-jalan di Jakarta oleh sepeda motor dalam kartunnya.


Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort